Langsung ke konten utama

Kareping Rohso, Rohsoning karep.

Senin Kasambatan

Bagiku, melupakan masa lalu adalah tindakan yang seharusnya tak perlu. Bagaimana mungkin melupakan masa lalu, jika Tuhan menyadarkan manusia dengan cara pahit agar mampu mengintrospeksi diri? Agar manusia lebih berlapang dada dan benar-benar memahami makna 'Innalillahi wa inna ilaihi raji'un'.

Ketika cobaan datang, aku berpikir bahwa mungkin Tuhan sedang rindu padaku. Maklum, aku sering kali hanya mengingat-Nya saat mengeluh, dan melupakan-Nya ketika sedang terlena oleh bahagia.

Bahagia itu… datang setiap bulan di tanggal 27.


Setelah sepekan di perantauan, aku lekas kembali ke kota kelahiran: Malang. Wajahku penuh keluh, dampak dari padatnya persaingan di kota besar.

Bagiku, kota adalah hutan belantara. Jika tidak berhati-hati, seseorang bisa tergiur dan terjebak dalam kubangan foya-foya. Yang tak waspada bisa diterkam oleh binatang buas yang menjelma manusia.

Ibu dan Ayah adalah alasanku pulang. Tuhan pun adalah alasan jika aku tak bisa berbuat banyak dalam kebaikan; setidaknya aku tak menambah dosa.

Seringkali Ayah menegurku agar uang dipakai sebaik-baiknya. Jika tak ada keperluan mendesak, lebih baik jangan dihambur-hamburkan untuk hal yang tak perlu.

Maklum, kayu di rumah—penahan genteng di dapur dan kamar mandi—sudah hampir roboh.

"Aku utang ke Mbahmu, Le, buat beli dan masang genteng. Kalau nggak dipaksa, sebentar lagi akan musim hujan." Ujarnya.

Apalagi adik perempuanku kini sudah beranjak dewasa. Ibu ingin ia meneruskan pendidikan di pondok pesantren. Semakin mumet saja pikiran di rumah. Padahal tujuanku pulang adalah ingin rindu ketenangan di teras rumah.

Aku mencoba berpikir jernih. Selama ini, gaji sebenarnya untuk apa saja? Ibu, yang juga buruh pabrik dengan penghasilan jauh di bawahku, mampu menghidupi tiga anak. Sementara aku? Bisa apa?

Apa hanya terus terjebak dalam keinginan? Menumpuk harta? Mencari jabatan? Untuk beli pakaian mahal? Sepatu mahal? Menarik pasangan?

Untuk liburan? Nongkrong di bar? Agar terlihat keren di feed Instagram?

Aku lantas terdiam dan merenungi… Apa yang salah dengan manajemen hidupku selama ini? Aku dilahirkan pasti dengan maksud. Bukan untuk hilang dan meredup setelah diberi hidup.

Ilustrasi pulang ke rumah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...

Pamrih

Meski beribu-ribu kebaikan dilakukan, nyatanya yang diingat oleh orang adalah satu kali keburukan. Baginya, keburukan akan menyakitinya selamanya, tetapi kebaikan hanya akan dirasakannya sesaat. Bukan hidup ini yang tak adil—mungkin Tuhan hanya menguji seberapa ikhlas kebaikanmu. Jika pamrih yang kau cari, wajar saja jika di kemudian hari kau sakit hati. ☺️ Ya Tuhan, katanya semua harimu itu adalah baik. Lalu kenapa ketika aku akan menggenapkan ibadah justru terhalang oleh hari yang dianggap buruk? Entah, masa depan memang bisa diprediksi. Tapi keakuratan akal manusia juga tak bisa jadi tumpuan. Kun, fayakun. Laa haula wala quwwata illa billah