Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Guru Pengalaman adalah Mantan

Napsu dan Luka yang Membawa Pelajaran Aku pernah merasa dekat, walau sebenarnya hati sudah jauh tak berjumpa. Bodohnya aku dulu menyesal saat tangan kita erat berjabat, tapi dalamnya hati malah melayang ke syahwat semu. Itu napsu , yang sering bikin kita lupa arah dan hati. Dua tahun berlalu, luka itu pelan-pelan sembuh. Waktu menjawab semua tanya yang tak terucap. Aku mulai paham, bahwa cinta itu bukan cuma soal rasa. Di antara kita ada masalah lain yang diam-diam mengikis: uang . Kadang uang jadi dinding yang memisahkan, bukan cuma jarak fisik. Dengan patah hati aku belajar bangkit, meski rasa sakit dan dendam pernah singgah. Kita memang sudah berpisah jalan, tapi bukan berarti doaku untukmu berhenti. Dari perpisahan itu aku belajar hidup tak sekedar merasa cukup, tapi juga bersyukur atas apa yang ada. Aku tak punya mobil untuk memayungimu dari hujan, hanya motor tua yang menemani langkah kita. Tapi itu bukan so...

Kunang-kunang.

Setitik tinta di atas kertas adalah pusat perhatian manusia. Sepasang rakaat di tengah malam adalah pusat perhatian alam semesta. "Plaur ta arek iku, kancane kabeh padha turu, malah njupuk banyu wudhu," tanya sang malaikat. Lalu para malaikat menyaksikan betapa indahnya titik cahaya putih di antara kegelapan malam, yaitu manusia yang mampu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang.

sebenarnya kita sudah tak lagi sejalan.

Dua tahun berlalu, hati perlahan mulai pulih, dan waktu seolah menjawab semuanya. Ternyata, sakit di masa lalu itu adalah rencana Tuhan: bersamamu. Perlahan hati yang sunyi ini menyadari betapa bodohnya aku menyesali kejadian malam itu. Dengan berat kau mengucapkan bahwa sebenarnya kita sudah tak lagi sejalan. “Kenapa?” — itulah jawaban yang terus kucari selama ini. Dengan patah hati, aku mulai bangkit membawa rasa sakit. Dengan dendam yang membara, aku tak mau membiarkan jiwaku padam. Meski jalan kita sudah berbeda arah, meski raga kita tak lagi saling bertemu, berpisah bukan berarti hati ini berhenti saling menyapa dalam doa. Semoga kau bahagia dengan pasangan barumu yang kini kau umbar di linimasa. Terima kasih telah pernah hadir dan singgah. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik bagi kita masing-masing. Selepas kau menikah, aku sempat berharap pada raga Dahlia. Kita pernah saling bertukar cerita tentang masa lalu. Ingatkah kau? Sesaat kemudian, kau tiba-tiba men...

Aroma Nafas Masa Lalu

Njing, Aku Tahu Sekarang Kesal, marah, bahagia—semuanya melebur jadi satu saat nawalamu datang tanpa permisi melalui gawai tercanggihku. Kabar itu menampar: bahwa kau sebentar lagi akan melangsungkan resepsi, tinggal menghitung hari. Baru kusadari, kenapa malam kemarin semerbak wangi tubuhmu tiba-tiba mengisi kamar indekosku. Kenapa pula pekan lalu kau datang, seraya mengucap pamit dalam mimpi itu. Mungkin memang ini cara Tuhan kasih kode: cukup sampai malam ini aku menyimpan harapan. Lega... diiringi rasa gelisah. Aku mulai membayangkan, bagaimana rasanya kita yang dulu saling sayang, kini hadir hanya sebagai tamu undangan. Kita yang pernah berjanji menatap masa depan bersama, kini hanya ingin saling mengubur kenangan. Dulu aku punya seekor anjing, masih belia. Dan karena saat itu aku cuma penjaga parkir, rasanya mustahil aku bisa merawatnya dengan layak. Ingin kujual—tapi sayang. Ingin kurawat—ah, dompetku tak cukup tebal. Akhirnya, kupilih jalan pedih tapi logis: membiarka...

Aku dan Kau

Kau datang, kau nyaman. Dia datang, kau memaksakan. Ku menyia-nyiakan, kau tertawan. Kau menyembunyikan, kau ketahuan. Kau melihatnya kasihan, kau ingin balikan. Dia mengemis, Kau menangis. Kau ingin putus, harapanku pupus. Aku meminta maaf, kau maafkan. Aku meminta kesempatan, kau balas tak akan. Kutanya apa salahku, katamu tak ada. Aku menghampirimu, kau marah. Ku kirim pesan, kau abaikan. Ku telfon, kau berada dalam panggilan. Ku simpan, hpku hilang. Ku nanti, kau kembali. Ku sapa, kau tertawa. Kukirim lagu, kau menyimaknya. Kukirim puisi, kau mendengarnya. Ku hampiri lagi, kau bersahaja. Ku bertahan, kau mengalihkan. Ku update story, kau melihat. Ku bekerja, kau pun juga. Ku pulang, kau sebar undangan. Ku bertahan, kau naik pelaminan. Ku berpaling, kau berhening. Ku ditemani sepi, kau ditemani suami. Ku berjalan sendiri, kau berjalan dua kaki. Ku meratap, kau berharap. Ku berdoa, kau pun juga. Ku cinta, kau cinta. Ku cinta kau, kau cinta dia. *TAMAT.*...

Memantaskan Diri, Jika Ingin Dicintai.

Jika ditanya bagaimana caranya agar dicintai, jawabannya adalah dengan memantaskan diri supaya layak dicintai. Tapi kalau ditanya bagaimana caranya agar bisa mencintai, aku jawab: cintailah seperti matahari yang menyinari seluruh isi dunia, tanpa pilih kasih, tanpa pamrih. Bibirku pudar, lidahku kelu. Aku bisikkan pada Tuhan, “Kalau perih ini yang Engkau kasih, mungkin aku kurang bersyukur mengambil hikmah dari rasa sakit ini.” Ucapan itu keluar dengan isak tangis dari langit. Ya Tuhan, biarlah aku sendiri yang merasakan perih ini. Jangan sampai orang lain tahu bahwa sebenarnya aku sedih. Buatlah aku bisa tersenyum di depan mereka. Aku percaya ini semua akan segera berlalu, meski paku yang dulu tertancap di tubuhku sudah tercabut, tetap saja meninggalkan bekas luka yang tertancap bersama kenangan. Lekas pulih. Aku tahu, getaran jiwamu sudah lapuk dan perih. Kau mencari sinar matahari untuk menghangatkan sebagian tubuhmu yang membeku karena dinginnya badai masa lalu. Banyak ...

Pamrih

Meski beribu-ribu kebaikan dilakukan, nyatanya yang diingat oleh orang adalah satu kali keburukan. Baginya, keburukan akan menyakitinya selamanya, tetapi kebaikan hanya akan dirasakannya sesaat. Bukan hidup ini yang tak adil—mungkin Tuhan hanya menguji seberapa ikhlas kebaikanmu. Jika pamrih yang kau cari, wajar saja jika di kemudian hari kau sakit hati. ☺️ Ya Tuhan, katanya semua harimu itu adalah baik. Lalu kenapa ketika aku akan menggenapkan ibadah justru terhalang oleh hari yang dianggap buruk? Entah, masa depan memang bisa diprediksi. Tapi keakuratan akal manusia juga tak bisa jadi tumpuan. Kun, fayakun. Laa haula wala quwwata illa billah

Kenali Dirimu, Maka Kau akan Kenal Tuhanmu

Dalam hidup ini, ketika kita berbuat baik dengan mengharap pamrih, balasan akan datang dari manusia yang kita tolong—entah berupa ucapan terima kasih atau bantuan lain sesuai kemampuannya. Namun, saat kita memilih untuk ikhlas, tanpa mengharap balasan apa pun, seringkali justru Tuhan yang membalas kebaikan itu. Tak selalu langsung, kadang melalui orang lain, bahkan bisa jadi balasannya datang untuk keluargamu, untuk anak-anakmu. Namun begitu, kebaikan bukan selalu dibalas dengan kemudahan. Kadang justru ujian datang setelah kita melakukan hal baik. Mengapa demikian? Sebab pemahaman baru, kedewasaan batin, tidak bisa diturunkan ketika manusia sedang tenggelam dalam euforia bahagia. Ketika bahagia, manusia kerap lupa mengenali dirinya. Padahal, mengenali diri adalah jalan untuk mengenali Tuhan. Dalam pekerjaan pun begitu. Bekerja bukan hanya sekadar rutinitas yang dijalani hingga akhir hayat. Setiap tetes keringat bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang lurus. Jika ka...

Merasa Paling

Malam ini aku tertunduk lesu di antara kucing yang meraung dan tak pernah akur di tengah malam. Sebenarnya masalah mereka apa sih? Pertanyaan itu lalu berubah pada keadaan hati yang kadung meraung layaknya sepasang kucing tersebut. Banyak mengeluh, tak bersyukur, berprasangka bahwa dunia ini tak adil, uang yang tak cukup, dan sebagainya. Aku sadar bahwa aku ternyata tak lebih baik dari kucing yang mengusik telinga manusia di tengah malam. – Ardita Rf

Manusia seperti apa.

Ada masa seseorang tersenyum melihat masa lalunya yang kelam, perih, hampir bunuh diri. Ada masa seseorang menangis melihat masa lalunya yang mewah, kaya, sampai lupa kanan kiri. Bersyukur atau menyesal? Ujian atau adzab? Manusia yang memilih; memilih pola pikirnya sendiri. Karena katanya Tuhan itu tidak adil; Tidak adil karena tak seperti yang ia harapkan. – Ardita Rf

kau lelaki apa

Lelaki lemah berwujud aku, badan gemulai asma perempuan. Lantas apa yang diandalkan? Siapa yang peduli akan kata-kataku? Kemudian aku tertunduk malu di hadapanmu, tak berdaya, tak seperti laki-laki kebanyakan. Jangan-jangan yang dikira musibah, ternyata anugerah.

Nak

Nak, bangunlah. Masih banyak cucian! Mana tanggung jawabmu? Tiap hari hanya tertidur di sofa melihat cermin. Apa kau sudah gila nak? Melihat wajah sendiri di cermin dengan tertawa terbahak-bahak. Tapi katamu cermin itu ajaib, bisa melihat dunia dan seisinya. Tapi aku khawatir denganmu, sudah lama kau tak menyapa kawanmu sekitar perumahan. Diajaknya kau malah mengejek, sepertinya kawanmu tak lagi suka denganmu; sudah tak nyambung diajaknya bicara. Aku takut denganmu saat dewasa, kelak ketika Ibumu sudah tiada. Siapa lagi yang akan merawatmu? Anak sebatang kara, tak kenal siapa dan dimana bapaknya.

Ketika Hubungan Tak Lagi Sehat

Ketika langit menjadi kelabu, seakan awan mendung menutupi hatimu. Perasaan mengagumkan kala itu, melihatmu merona dalam tawa manismu. Pukul 17:00 WIB aku menanti binar cahayamu. Cahaya yang sering disapa senja; yang sering menghiasi cakrawala linimasa; yang sering mewakili perasaan remaja yang gundah gulana. Memang senja hanya datang sesaat, seperti jua dirimu yang tak kunjung kau dapat. Memang terasa berat, karena perasaan kita hanya tumbuh sesaat; sesaat kau mencintaiku, sesaat kau mencintainya. “Keputusanmu adalah hal yang paling tepat disaat sebuah hubungan menjadi tak lagi sehat. Kau lebih memilih hubungan singkat daripada cinta yang terlanjur terjerat tanpa hati yang terikat. Menyekat, setidaknya dalam jangka waktu yang tepat.”

Jika Ingin Memiliki, Berarti Bukan Cinta

Tak henti-hentinya aku mengirim doa untukmu, berharap suatu saat Tuhan akan mendengarkannya. Namun, bodohnya aku yang terlalu mencintaimu. Semakin aku mencintai, semakin kau abaikan dan tak menghargai perasaanku. Bukan siapa-siapa, hanya cemburu? Aku masih saja egois, merasa diriku lebih istimewa dibanding kekasihmu itu. Kau memilih bersembunyi diam-diam ketika pria itu datang, memberimu senyuman dan kado mesra setiap minggu. Mengajakku berkeliling kota, membujuk agar kau nyaman dalam pelukannya. Seolah kau membuka hatimu meski kau sadar, ada hati lain yang telah kau miliki. Perlahan, hatimu berubah tak seperti dulu. Tak ada lagi perhatian setiap malam. Aku jadi serba salah saat mencoba menghubungimu. “Lagi ngapain nih?” “Sudah makan?” Namun, kau malah membalas dengan santai: “Lagi ngabsen ya?” Aku tak pernah berpikir jauh, hanya ingin segera menikahimu. Usia kita memang masih muda untuk membangun rumah tangga. Aku sibuk dengan karier di luar kota, sementara kau sibuk b...

Tinggal Hanya aku dan Tuhan

Angkuh gagah berdiri ketika raga tak kenal mati, Ambisi meraih mimpi membuat insan semakin ringkih. Hey ada kanan dan kirimu, Mengapa engkau terus maju? Terpenjara dalam nafsu seakan semua lupa, Dulu kau yang pernah berujar kita saling melengkapi; Bukan yang saling mengejar duniawi. Kini tangis raga menyeruak ingin mati; Setelah semua tak sesuai ekspektasi. Menyesal, kecewa, campur aduk dalam balutan puisi. Ada apa ini? Tuhan nyatanya tak pernah benci dengan semua; Meski dirasa kadang lupa saat Bahagia. Tuhan nyatanya masih cinta dengan semua; Meski dirasa kadang butuh disaat derita. Kini tinggal Hanya aku dan Tuhan. Dalam rimbun hutan sunyi, Aku tersentak ada cahaya muncul, Warna kemerahan menjalar; Warna keabu-abuan bersuara. Aku ingin lari, tapi badan ini sungguh berat; Aku ingin teriak, tapi mulut ini tak bisa bergerak. Anak-anakku, bagaimana ini? ...

Menipu Rindu

Kadangkala menipu rindu sama perihnya dengan bersua tanpa kau sapa. Mungkin jika puasa adalah rindu, Maka berbuka adalah saat kau bersua denganku. Berbuka puasa dengan Es Raut Segar; Kala mentari berdiri denganku sejajar. Aku tahu, setelah berbuka pun bukan berarti Aku akan rakus melahap semua egois dalam hal mencintaimu; tergesa-gesa untuk memilikimu. Esok, aku masih dihadapkan oleh puasa-puasa yang lain yang tak berhujung hingga Hari Raya telah tiba. Tak usah menyuruhku untuk memposisikan dirimu sebagai orang yang nomor satu. Jika kelak, aku akan mengantar namamu tercatat dalam baris kedua, diselembar kertas kartu keluarga kita.

Satu Nama, Dua Bunga.

Jas hujan malam itu menjemputmu dalam rintikan sendu. Dengan gaun putih abu-abumu, kau terlihat lesuh; karena senja tak lagi menyapamu. Wajahmu tak lagi berarah seperti saat awal kita berjumpa. Ada dua bunga dalam sebuah nama yang tersusun indah; layaknya sang mentari yang baru bangun dari tidurnya. Bunga yang satu berarti anggun; satunya lagi berarti mempesona. Seperti itulah dirimu. Tapi serbuk sari yang selama ini ku cari, dihinggapi lebah lain yang juga rindu. Walau sebenarnya hati ini cemburu, mengemis cinta padamu bukanlah caraku untuk mendapatkanmu.