Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Drama Menjelang Akad

Cuaca malam diiringi hujan, mengguyur suasana rumah yang penuh canda dan tawa. Saudara berkumpul, kawan merangkul membesarkan sebuah hati yang sebentar lagi melepas status lajang. Semakin lama obrolan kami mengalir seperti derasnya hujan, membahas masalah negeri, pandemi yang tak tahu kapan berakhir, hingga nostalgia waktu jaman susah dahulu kala.   Tengah malam ramai bersuar dan satu persatu mulai menjelma keheningan, teman teman mulai tumbang meluruskan punggungnya sendiri sendiri: di kursi, lantai, hingga kamarku mereka singgahi. Allahu akbar.... Alllahu Akbar... (Adzan Shubuh) Tubuh ini spontan berdiri kemudian Ku tepuk pundak kawan satu persatu lantas menuju kamar mandi, bersiap bergegas menuju rumah nenek calon istri. Naas, setelah aku mengambil handuk dan berganti pakaian tiba-tiba kawanku semua menghilang balik pergi ke rumah masing-masing. Ahh sial, niat mau aku suruh anter akad nikah. Memang sengaja semalam sebelumnya kawan-kawan, tetangga tidak ada yang aku beritahu...

Buruh yang peragu

 Dahulu, tak seorang pun mengenal apa itu PT Dayasa. Bahkan, warga sekitar sempat ragu: benarkah pabrik yang sejak lima tahun terakhir pailit—Surya Kertas—akan berdiri kembali? Wajah pemilik kos kini kian berseri. Kamar-kamar kosongnya mulai banyak diminati. Penjual nasi yang sebelumnya sepi, hari ini bersyukur karena dagangannya kembali lancar. Obrolan pagi itu begitu ramai. Para ibu, tua maupun muda, membahas kabar bahwa PT Dayasa akan bangkit dan maju. Kami masih ingat betul: 50 orang pertama yang direkrut berasal dari SMK 5 Surabaya dan SMK 1 Singosari Malang. Kami mengenakan seragam Dayasa dengan penuh harap, meski tak sedikit keraguan menghantui. Saat pertama kali kami masuk, tepat satu tahun yang lalu, pabrik tampak angker. Rumput liar menjalar di setiap sudut, membuat kami bertanya-tanya: ini kerja atau uji nyali? Di depan gerbang, para demonstran berdiri. Mereka menuntut hak pesangon yang belum dibayarkan. Poster-poster protes terpampang di mana-mana, bahkan ada boneka...

Sederhana itu rumit

Di antara deretan pabrik yang menjulang, terdengar suara lantang dari seorang pria paruh baya. Ia menyuarakan kisah perjalanan hidup yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang mampu berpuasa dari sikap angkara murka. Setelah melewati berbagai peristiwa pahit, ia mulai memahami arti hidup—bukan sekadar mencari uang atau berkuasa di kursi jabatan, melainkan cukup dengan mendengar kicau burung di teras rumah sepulang kerja, sambil menimang anaknya yang bahkan usianya belum genap sebulan. Sejak remaja, Erwin dikenal sebagai pemuda pemberontak di kampungnya. Ia kerap memacu motor balapnya di gang-gang sempit, bahkan hampir setiap hari memukul anak-anak tetangga yang tidak bersalah. Bukan tanpa alasan ia berlaku sekejam itu. Sebab, seperti hukum alam: di mana ada sebab, di situ pasti ada akibat. Erwin adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Sejak kelahiran adiknya yang bungsu, ia sering kali merasa tersisih oleh kedua orang tuanya. Setiap kali ia meminta sesuatu, permintaannya seolah tid...

Sahabat Pelosok Negeri

Dahulu aku pernah mengenal sahabat yang rumahnya jauh di pelosok negeri. Tapi itu dahulu, dan sepertinya terlalu berlebihan aku menyebut dimana tempat tinggal rumahmu. Berawal dari kawan yang coba memperkenalkanmu di sosial media, kau dan aku semakin lama semakin akrab. Hingga aku ingat dahulu pernah nekat pergi ke rumahmu bersama Edo, berbekal uang 20 ribu dan bermodal GPS. Seminggu setelah hari raya Idul Fitri yang orang Jawa menyebut sebagai Hari Raya Kupatan, aku dan Edo berjanji untuk berangkat di awal pagi. Jam menunjukkan pukul 06:30 WIB, aku menunggu Edo di depan teras rumah. Kemudian Edo datang menjemputku. Pukul 08:00 aku tiba di Waduk Lahor, berhenti sejenak dan mengabadikan foto melalui Blackberry milikku. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Kota Blitar, aku yang bermodal GPS hanya mengarahkan Edo untuk belok kesana kemari. Hingga akhirnya aku mulai bimbang dengan peta, karena dulu GPS tak secanggih sekarang. Memang benar pepatah bilang, "M...

Mencintai Secukupnya, Tak Usah Berlebihan

Alkisah, pada suatu sore yang gelap dan nampak tanda-tanda akan hujan, bersama satu orang temanku bernama Angger. Selepas sekolah kami janjian pergi menonton Arema di stadion Kanjuruhan. Angger kuminta untuk rehat sejenak di rumah untuk menanggalkan baju seragam di almari. Motor matic kumal warna merah langsung digas menuju rumahku di dekat terminal Arjosari. Aku: "Mampir omah sek ya ngger? Salin seragam," ucapku. Angger: "Cuk ojo suwe-suwe lek salin, selak main!" balasnya. Aku: "Iyo wadah," jawabku. Angger adalah teman kelas SMK seusia yang dulunya diem, pandai tapi di tengah-tengah tahun kemudian ia malah tertarik untuk belajar nakal, mungkin ia kecewa dengan seorang wanita yang meninggalkannya. Wajahnya yang murah senyum dan percaya diri adalah daya tariknya. Tampil necis dengan balutan merk dari atas hingga ujung kakinya. Kemudian kami pergi ke rumah Angger di daerah Pakisaji, 20 kilometer dari rumahku. ***** Tiba-tiba hujan deras tan...

Buk, Do'amu Manjing!

Aku ingin tahu, bagaimana caranya untuk mengetahui dari mana asal-usul silsilah keturunanku. Dan yang paling ingin aku ketahui adalah, untuk apa sebenarnya aku dilahirkan? Apakah untuk merusak bumi? Merampas uang rakyat? Atau untuk membantu keluarga yang tak kunjung damai, yang tiap hari terus cekcok dan bertengkar tanpa henti? Aku lahir dari sepasang orang tua yang nasibnya serupa dengan nama kota tempat kelahiranku: "Malang". Ceritanya, ayah dan ibu pertama kali bertemu saat ayah menjadi operator kayuh becak, dan ibu seringkali menjadi pelanggannya saat sore hari selepas bekerja. Singkat cerita, akhirnya ayah dan ibu saling suka hingga memutuskan menikah di usia 20-an. Meski ayah tidak memiliki pekerjaan tetap, untungnya ibu sudah menjadi pegawai tetap. Ayah berasal dari desa perbatasan dan mengadu nasib di tanah perantauan, tepatnya di terminal Malang. Tanah penghasil kopi di perbatasan Kota Lumajang adalah tempat kelahiran ayahku. Ayah berasal dari keluarga pet...

Indomaret Bersemi Hari Ini

13 Juli 2019 Sabtu adalah hari yang hampir ditunggu-tunggu oleh para pekerja buruh. Setelah satu minggu, pulang adalah tujuan utama. Sebagai anak, orang tua di rumah sudah pasti menunggu. Seperti biasanya, aku pulang nunut bersama temanku bernama Arul. Arul adalah adik kelasku dulu waktu SMK. Barang-barang sengaja sudah ku siapkan tadi pagi agar ketika pulang, aku tinggal bergegas menuju rumah. Arul pun sudah bersiap dengan helm teropongnya. Ada satu lagi temanku, “Atta” (tapi tanpa halilintar), laki-laki yang lebih pendek dariku dengan ciri khas rambut semir putihnya. Satu angkatan SMK dengan jurusan yang sama, tapi kami hanya berbeda kelas. Lucunya, kami baru kenal waktu di tempat bekerja. Kami dengan Atta sempat berpisah, ia bilang akan lewat jalur Cangar-Batu, sementara aku dan Arul lewat jalur Prambon-Sidoarjo. Rumah Arul ditempuh sekitar satu jam lebih dari tempat kami bekerja, sementara dari rumah Arul ke rumahku harus menempuh satu jam lagi. Karena itu, a...

Menahan

Delia, Bukan Adelia Buku yang kubaca telah sampai di lembaran terakhir. Meski getir terasa menyesaki dada, aku mencoba menutupnya dengan cara yang manis. Langit biru yang tadinya cerah perlahan berubah mendung, lalu gemuruh hujan menyertainya. Tapi aku tetap berangkat. Untukmu. Tak lupa kubawa sebuah bingkisan kecil, rapi terbungkus, dengan namaku tertulis di sana. Sebuah tanda, bahwa kita hampir dua tahun saling mengenal. "Semoga dia senang yaa..." Langit malam terasa begitu sendu, seakan turut menangis. Aku menepi, mengenakan jas hujan—yang sayangnya sobek di bagian siku. "Ah, bodo amat." Aku terlalu ingin bertemu. Apa dia secantik yang dulu? Masih mungilkah wajahnya? Atau mungkin... lebih tinggi sekarang? Aku menebak-nebak di sepanjang perjalanan—hingga… “Sruooott!!” “Anjeng…” Air dari genangan disemburkan oleh truk dari arah berlawanan. Tepat ke wajahku. Basah. Tapi tidak apa-apa. Yang penting… ketemu. Sudah lama aku tidak melihat senyumnya. ...