Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Senandika

Drama Menjelang Akad

Cuaca malam diiringi hujan, mengguyur suasana rumah yang penuh canda dan tawa. Saudara berkumpul, kawan merangkul membesarkan sebuah hati yang sebentar lagi melepas status lajang. Semakin lama obrolan kami mengalir seperti derasnya hujan, membahas masalah negeri, pandemi yang tak tahu kapan berakhir, hingga nostalgia waktu jaman susah dahulu kala.   Tengah malam ramai bersuar dan satu persatu mulai menjelma keheningan, teman teman mulai tumbang meluruskan punggungnya sendiri sendiri: di kursi, lantai, hingga kamarku mereka singgahi. Allahu akbar.... Alllahu Akbar... (Adzan Shubuh) Tubuh ini spontan berdiri kemudian Ku tepuk pundak kawan satu persatu lantas menuju kamar mandi, bersiap bergegas menuju rumah nenek calon istri. Naas, setelah aku mengambil handuk dan berganti pakaian tiba-tiba kawanku semua menghilang balik pergi ke rumah masing-masing. Ahh sial, niat mau aku suruh anter akad nikah. Memang sengaja semalam sebelumnya kawan-kawan, tetangga tidak ada yang aku beritahu...

mantan diantara hujan.

Rintik hujan membuat kenangan menjadi terulang saat semerbak wangi aspal jalanan menjelma bak parfum tubuhmu. Kala duduk berdua di ruang tamu; kala tiap Sabtu aku pergi apel ke rumahmu. Aku tak menyesal pernah menjadi bagian indah dalam hidupmu, atau mungkin menjadi tukang ojek yang siap jika sewaktu-waktu kau membutuhkanku. Meski kadangkala yang kau butuhkan adalah siapa yang mau untuk jadi pelampiasan. Iya, pelampiasan karena lukamu di masa lalu. Kini sakitmu perlahan telah pulih dari bekas luka masa lalu. Dan ketika semakin dirasa sudah saatnya sembuh bersamaku, anehnya kau malah rindu dengan kenangan sakit bersama masa lalumu. Terima kasih, karenamu aku belajar berbesar hati. Karenamu aku belajar membuka hati.

Guru Pengalaman adalah Mantan

Napsu dan Luka yang Membawa Pelajaran Aku pernah merasa dekat, walau sebenarnya hati sudah jauh tak berjumpa. Bodohnya aku dulu menyesal saat tangan kita erat berjabat, tapi dalamnya hati malah melayang ke syahwat semu. Itu napsu , yang sering bikin kita lupa arah dan hati. Dua tahun berlalu, luka itu pelan-pelan sembuh. Waktu menjawab semua tanya yang tak terucap. Aku mulai paham, bahwa cinta itu bukan cuma soal rasa. Di antara kita ada masalah lain yang diam-diam mengikis: uang . Kadang uang jadi dinding yang memisahkan, bukan cuma jarak fisik. Dengan patah hati aku belajar bangkit, meski rasa sakit dan dendam pernah singgah. Kita memang sudah berpisah jalan, tapi bukan berarti doaku untukmu berhenti. Dari perpisahan itu aku belajar hidup tak sekedar merasa cukup, tapi juga bersyukur atas apa yang ada. Aku tak punya mobil untuk memayungimu dari hujan, hanya motor tua yang menemani langkah kita. Tapi itu bukan so...

Sahabat Pelosok Negeri

Dahulu aku pernah mengenal sahabat yang rumahnya jauh di pelosok negeri. Tapi itu dahulu, dan sepertinya terlalu berlebihan aku menyebut dimana tempat tinggal rumahmu. Berawal dari kawan yang coba memperkenalkanmu di sosial media, kau dan aku semakin lama semakin akrab. Hingga aku ingat dahulu pernah nekat pergi ke rumahmu bersama Edo, berbekal uang 20 ribu dan bermodal GPS. Seminggu setelah hari raya Idul Fitri yang orang Jawa menyebut sebagai Hari Raya Kupatan, aku dan Edo berjanji untuk berangkat di awal pagi. Jam menunjukkan pukul 06:30 WIB, aku menunggu Edo di depan teras rumah. Kemudian Edo datang menjemputku. Pukul 08:00 aku tiba di Waduk Lahor, berhenti sejenak dan mengabadikan foto melalui Blackberry milikku. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Kota Blitar, aku yang bermodal GPS hanya mengarahkan Edo untuk belok kesana kemari. Hingga akhirnya aku mulai bimbang dengan peta, karena dulu GPS tak secanggih sekarang. Memang benar pepatah bilang, "M...

sebenarnya kita sudah tak lagi sejalan.

Dua tahun berlalu, hati perlahan mulai pulih, dan waktu seolah menjawab semuanya. Ternyata, sakit di masa lalu itu adalah rencana Tuhan: bersamamu. Perlahan hati yang sunyi ini menyadari betapa bodohnya aku menyesali kejadian malam itu. Dengan berat kau mengucapkan bahwa sebenarnya kita sudah tak lagi sejalan. “Kenapa?” — itulah jawaban yang terus kucari selama ini. Dengan patah hati, aku mulai bangkit membawa rasa sakit. Dengan dendam yang membara, aku tak mau membiarkan jiwaku padam. Meski jalan kita sudah berbeda arah, meski raga kita tak lagi saling bertemu, berpisah bukan berarti hati ini berhenti saling menyapa dalam doa. Semoga kau bahagia dengan pasangan barumu yang kini kau umbar di linimasa. Terima kasih telah pernah hadir dan singgah. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik bagi kita masing-masing. Selepas kau menikah, aku sempat berharap pada raga Dahlia. Kita pernah saling bertukar cerita tentang masa lalu. Ingatkah kau? Sesaat kemudian, kau tiba-tiba men...

Mengemis masa lalu

Surat dari Tuhan: Hidup, Luka, dan Perjuangan Hidup itu bukan cuma soal uang, tapi cukup uang buat hidup, itu penting. Ada yang tidur nyenyak dengan cukup uang, ada juga yang gelisah karena merasa kurang. Aku bukan mantanmu yang merengek, atau merayu supaya kau balikan lagi menghapus salah lalu yang sudah terjadi. Aku datang bukan buat cari simpati, dan perjuangan aku bukan untuk mengintai hidupmu. Aku dendam, iya, dendam ingin lebih baik dari kemarin. Sekarang waktunya aku perbaiki hidupku, bukan memperbaiki hubungan kita. Kau cuma jadi bagian sejarah, sepotong cerita yang membekas dalam hidupku. Buat apa patah hati kalau kau sendiri yang menyesal? Bukankah luka itu buat ngajarin kita arti sembuh?

Berjalan dimasa lalu

Waktu begitu cepat berlalu. Tapi aku, ya aku, masih saja berkutat—berputar-putar di pusaran masa lalu. Hari-hari yang datang dan pergi terasa seperti pengulangan, tak ada yang benar-benar berubah. Tahun demi tahun, aku tambah tua, tapi rasanya... belum juga bisa berbuat apa-apa. Bagiku, nggak salah kalau manusia punya galaunya masing-masing. Toh, kadang galau itu jadi cambuk, jadi pecut buat tetap berkarya. Mungkin itu juga sebabnya aku lebih nyaman disebut karyawan daripada buruh . Entah kenapa, lebih terdengar punya harapan. Maaf ya, Pak, Buk. Anakmu ini, yang tambah tua tapi belum juga bisa bikin kalian bangga. Aku lebih memilih pura-pura lupa di hari ini. Soalnya, buat apa juga ucapan selamat di media sosial kalau nggak bisa salaman langsung, saling mendoakan, dan saling peluk dalam diam? Maaf juga untukmu. Aku tahu kau sudah dewasa, lebih dulu matang dibanding aku yang masih kekanak-kanakan. Kau yang butuh kepastian, sementara aku masih sibuk mengejar masa depan yang belum ...

Aroma Nafas Masa Lalu

Njing, Aku Tahu Sekarang Kesal, marah, bahagia—semuanya melebur jadi satu saat nawalamu datang tanpa permisi melalui gawai tercanggihku. Kabar itu menampar: bahwa kau sebentar lagi akan melangsungkan resepsi, tinggal menghitung hari. Baru kusadari, kenapa malam kemarin semerbak wangi tubuhmu tiba-tiba mengisi kamar indekosku. Kenapa pula pekan lalu kau datang, seraya mengucap pamit dalam mimpi itu. Mungkin memang ini cara Tuhan kasih kode: cukup sampai malam ini aku menyimpan harapan. Lega... diiringi rasa gelisah. Aku mulai membayangkan, bagaimana rasanya kita yang dulu saling sayang, kini hadir hanya sebagai tamu undangan. Kita yang pernah berjanji menatap masa depan bersama, kini hanya ingin saling mengubur kenangan. Dulu aku punya seekor anjing, masih belia. Dan karena saat itu aku cuma penjaga parkir, rasanya mustahil aku bisa merawatnya dengan layak. Ingin kujual—tapi sayang. Ingin kurawat—ah, dompetku tak cukup tebal. Akhirnya, kupilih jalan pedih tapi logis: membiarka...

Aku dan Kau

Kau datang, kau nyaman. Dia datang, kau memaksakan. Ku menyia-nyiakan, kau tertawan. Kau menyembunyikan, kau ketahuan. Kau melihatnya kasihan, kau ingin balikan. Dia mengemis, Kau menangis. Kau ingin putus, harapanku pupus. Aku meminta maaf, kau maafkan. Aku meminta kesempatan, kau balas tak akan. Kutanya apa salahku, katamu tak ada. Aku menghampirimu, kau marah. Ku kirim pesan, kau abaikan. Ku telfon, kau berada dalam panggilan. Ku simpan, hpku hilang. Ku nanti, kau kembali. Ku sapa, kau tertawa. Kukirim lagu, kau menyimaknya. Kukirim puisi, kau mendengarnya. Ku hampiri lagi, kau bersahaja. Ku bertahan, kau mengalihkan. Ku update story, kau melihat. Ku bekerja, kau pun juga. Ku pulang, kau sebar undangan. Ku bertahan, kau naik pelaminan. Ku berpaling, kau berhening. Ku ditemani sepi, kau ditemani suami. Ku berjalan sendiri, kau berjalan dua kaki. Ku meratap, kau berharap. Ku berdoa, kau pun juga. Ku cinta, kau cinta. Ku cinta kau, kau cinta dia. *TAMAT.*...

Sebuah Tulisan Ardita

Jalanku ditempuh menggunakan beribu-ribu kali kejadian patah hati. Entah itu masalah keluarga, teman, ataupun mantan. Kadangkala aku berpikir, kenapa Tuhan membentukku dengan kejadian pahit selama dua dekade terakhir ini? Apakah aku yang tak bisa berbenah setiap kejadian, ataukah memang aku saja yang terlalu berlebihan? Ahh... (sembari menghela napas panjang). Lalu kemudian seseorang menepuk bahuku dari belakang dan membentak, yang ternyata itu Ibuku sendiri. "Ngelamun yo ngelamun, galau yo galau. Tapi lek udan kumbahane yo entasono," kata Ibuk dengan raut jenakanya. "Oh iyo, buk, lali hehehe," jawabku sontak dengan tawa yang terlihat palsu. Ahh, Ibuk selalu saja membuyarkan suasana. Ada saja cara Ibuk mengajariku agar aku tak terlalu memikirkannya. - Ardita RF

kukira kau jodohku

Aku kira kamu jodohku, ternyata kamu cuma dititipkan Tuhan untuk mendewasakanku. Dari karya banyak kisah yang kuangkat tentangmu, banyak hal juga yang aku pelajari dari perpisahan dulu. Mencintai sewajarnya: tidak berlebihan, tidak kekurangan, adalah hal yang cukup. Tak usah sering bertanya, "Lagi apa?". Tak perlu tiap waktu bertanya, "Udah makan?". Juga tak perlu tahu, "Kenapa kok balesnya lama?". Aku tertawa melihat bodohnya diriku dulu. Tapi aku mencintaimu penuh, sedangkan kamu hanya mencintaiku separuh. Akhirnya, buku ini menemukan epilog. Ctrl+N semenjak hari ini. Ingin dicintai itu hanya akan membuat dirimu menjadi orang lain. Mulai sekarang, kamu harus belajar mencintai pada apapun, termasuk orang yang paling kamu benci sekalipun. Syukur-syukur kamu cinta pada sang pemberi hidup.

Mencintai Secukupnya, Tak Usah Berlebihan

Alkisah, pada suatu sore yang gelap dan nampak tanda-tanda akan hujan, bersama satu orang temanku bernama Angger. Selepas sekolah kami janjian pergi menonton Arema di stadion Kanjuruhan. Angger kuminta untuk rehat sejenak di rumah untuk menanggalkan baju seragam di almari. Motor matic kumal warna merah langsung digas menuju rumahku di dekat terminal Arjosari. Aku: "Mampir omah sek ya ngger? Salin seragam," ucapku. Angger: "Cuk ojo suwe-suwe lek salin, selak main!" balasnya. Aku: "Iyo wadah," jawabku. Angger adalah teman kelas SMK seusia yang dulunya diem, pandai tapi di tengah-tengah tahun kemudian ia malah tertarik untuk belajar nakal, mungkin ia kecewa dengan seorang wanita yang meninggalkannya. Wajahnya yang murah senyum dan percaya diri adalah daya tariknya. Tampil necis dengan balutan merk dari atas hingga ujung kakinya. Kemudian kami pergi ke rumah Angger di daerah Pakisaji, 20 kilometer dari rumahku. ***** Tiba-tiba hujan deras tan...

Aku menuntunmu melangkah, dirimu mengulang sakit yang sama.

Kita berdua tersesat di antara belantara rimba. Mudah sekali bagi wanita memakai perasaan, ketimbang logika yang mestinya digunakan. Dari dulu sampai sekarang, wanita tak cukup kuat merasa iba pada mantan yang mengemis agar balikan; seperti anak kecil yang merengek karena tak dituruti kemauannya. Aku ingin menuntunmu melangkah, tapi dirimu justru ingin duduk dan mengulang sakit yang sama. Ihdinassirotol Mustaqiim Kita sama-sama ingin melanjutkan kuliah, namun keadaan keluarga mengharuskan kita untuk merelakan. Sama-sama membuang ego demi meraih masa depan, untuk adik-adik kita yang juga butuh pendidikan.

Memantaskan Diri, Jika Ingin Dicintai.

Jika ditanya bagaimana caranya agar dicintai, jawabannya adalah dengan memantaskan diri supaya layak dicintai. Tapi kalau ditanya bagaimana caranya agar bisa mencintai, aku jawab: cintailah seperti matahari yang menyinari seluruh isi dunia, tanpa pilih kasih, tanpa pamrih. Bibirku pudar, lidahku kelu. Aku bisikkan pada Tuhan, “Kalau perih ini yang Engkau kasih, mungkin aku kurang bersyukur mengambil hikmah dari rasa sakit ini.” Ucapan itu keluar dengan isak tangis dari langit. Ya Tuhan, biarlah aku sendiri yang merasakan perih ini. Jangan sampai orang lain tahu bahwa sebenarnya aku sedih. Buatlah aku bisa tersenyum di depan mereka. Aku percaya ini semua akan segera berlalu, meski paku yang dulu tertancap di tubuhku sudah tercabut, tetap saja meninggalkan bekas luka yang tertancap bersama kenangan. Lekas pulih. Aku tahu, getaran jiwamu sudah lapuk dan perih. Kau mencari sinar matahari untuk menghangatkan sebagian tubuhmu yang membeku karena dinginnya badai masa lalu. Banyak ...

Sepasang musuh

Kita adalah sepasang musuh yang saling bersatu, bertemu dalam ketidaksengajaan antara ruang dan waktu. Dalam peliknya dunia yang serba salah hingga titik terendah di kehidupan masing-masing. Meski kita tak pernah akur, setidaknya kita masih diberikan syukur. Meski kita tiap hari saling caci maki, semoga itu dalam rangka saling mencintai. Aku yakin kita adalah sepasang kekasih yang sudah Tuhan persiapkan sebelum kita dilahirkan, awet langgeng meski maut memisahkan.

Definisi Cinta

“Sudahlah, wanita gak hanya satu. Kita hidup di Indonesia, terdiri dari 250 juta jiwa,” ucapnya. Bukan soal berapa banyak wanita di dunia ini, aku saja tak pernah mengerti tentang apa definisi cinta. Apa cinta adalah perjalanan melukai diri sendiri? Ataukah cinta adalah memuaskan nafsu diri? Ahh… terlalu awam menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam hati. Yang jelas sahabatku Febri ini suka menasehatiku, saat dia tahu bahwa aku sedang memikirkanmu.

Ketika Hubungan Tak Lagi Sehat

Ketika langit menjadi kelabu, seakan awan mendung menutupi hatimu. Perasaan mengagumkan kala itu, melihatmu merona dalam tawa manismu. Pukul 17:00 WIB aku menanti binar cahayamu. Cahaya yang sering disapa senja; yang sering menghiasi cakrawala linimasa; yang sering mewakili perasaan remaja yang gundah gulana. Memang senja hanya datang sesaat, seperti jua dirimu yang tak kunjung kau dapat. Memang terasa berat, karena perasaan kita hanya tumbuh sesaat; sesaat kau mencintaiku, sesaat kau mencintainya. “Keputusanmu adalah hal yang paling tepat disaat sebuah hubungan menjadi tak lagi sehat. Kau lebih memilih hubungan singkat daripada cinta yang terlanjur terjerat tanpa hati yang terikat. Menyekat, setidaknya dalam jangka waktu yang tepat.”

Penjual Kambing Dadakan

Jika arti viral merupakan sesuatu kejadian yang klimaks, apa bedanya dengan arti cinta yang jatuh hati sesaat? Mirip seperti penjual kambing di sepanjang jalan ketika Hari Raya Idul Adha menjelang tiba, atau ramainya penjual durian pinggir jalan yang sedang musim-musimnya. Hilang dan pergi begitu saja, tanpa tahu ada rasa yang pernah terluka; olehmu sedia kala. Lupakah kau dulu kita pernah bertukar jari kelingking bersama? Saling mengucap janji bahwa: “Seberat apapun kita melangkah, pasti akan ada badai besar datang yang mencoba merobohkan.” Entah kenapa, manisnya katamu dahulu seakan sengaja kau lupa. Sekarang kau lebih memilih seorang lelaki yang pernah kau benci dahulu kala; yang sering kau ceritakan ketika aku bertemu denganmu di Taman Kota. “Merebahlah sayap, terbang tinggi di langit sana. Aku adalah bumi pengalah yang sering kau pijaki. Suatu saat, akan kubanggakan pada semua bahwa: aku pernah melihatmu sekecil itu.”

Swadaya Rasa

“Uniknya, rasa itu benar-benar ada. Bukan rasa yang awam dirasakan lidah, melainkan rasa ketika aku terlalu nyaman bertukar pikiran denganmu di dunia maya.” Meski kau dan aku tak pernah berjumpa sebelumnya, aku tak pernah memaksamu untuk memiliki rasa yang sama. Jika yang terbaik adalah kita yang saling sapa dalam setiap doa. Tepat hari ini kau dipersunting seorang laki-laki yang kau anggap sempurna. Selamat menikah. Semoga Sakinnah. “Jika arti swadaya adalah ikhlas memberi tanpa pamrih, lalu apa bedanya dengan rasa yang tak kunjung memiliki?”

Jika Ingin Memiliki, Berarti Bukan Cinta

Tak henti-hentinya aku mengirim doa untukmu, berharap suatu saat Tuhan akan mendengarkannya. Namun, bodohnya aku yang terlalu mencintaimu. Semakin aku mencintai, semakin kau abaikan dan tak menghargai perasaanku. Bukan siapa-siapa, hanya cemburu? Aku masih saja egois, merasa diriku lebih istimewa dibanding kekasihmu itu. Kau memilih bersembunyi diam-diam ketika pria itu datang, memberimu senyuman dan kado mesra setiap minggu. Mengajakku berkeliling kota, membujuk agar kau nyaman dalam pelukannya. Seolah kau membuka hatimu meski kau sadar, ada hati lain yang telah kau miliki. Perlahan, hatimu berubah tak seperti dulu. Tak ada lagi perhatian setiap malam. Aku jadi serba salah saat mencoba menghubungimu. “Lagi ngapain nih?” “Sudah makan?” Namun, kau malah membalas dengan santai: “Lagi ngabsen ya?” Aku tak pernah berpikir jauh, hanya ingin segera menikahimu. Usia kita memang masih muda untuk membangun rumah tangga. Aku sibuk dengan karier di luar kota, sementara kau sibuk b...