Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sajak

Drama Menjelang Akad

Cuaca malam diiringi hujan, mengguyur suasana rumah yang penuh canda dan tawa. Saudara berkumpul, kawan merangkul membesarkan sebuah hati yang sebentar lagi melepas status lajang. Semakin lama obrolan kami mengalir seperti derasnya hujan, membahas masalah negeri, pandemi yang tak tahu kapan berakhir, hingga nostalgia waktu jaman susah dahulu kala.   Tengah malam ramai bersuar dan satu persatu mulai menjelma keheningan, teman teman mulai tumbang meluruskan punggungnya sendiri sendiri: di kursi, lantai, hingga kamarku mereka singgahi. Allahu akbar.... Alllahu Akbar... (Adzan Shubuh) Tubuh ini spontan berdiri kemudian Ku tepuk pundak kawan satu persatu lantas menuju kamar mandi, bersiap bergegas menuju rumah nenek calon istri. Naas, setelah aku mengambil handuk dan berganti pakaian tiba-tiba kawanku semua menghilang balik pergi ke rumah masing-masing. Ahh sial, niat mau aku suruh anter akad nikah. Memang sengaja semalam sebelumnya kawan-kawan, tetangga tidak ada yang aku beritahu...

Kareping Rohso, Rohsoning karep.

Senin Kasambatan Bagiku, melupakan masa lalu adalah tindakan yang seharusnya tak perlu. Bagaimana mungkin melupakan masa lalu, jika Tuhan menyadarkan manusia dengan cara pahit agar mampu mengintrospeksi diri? Agar manusia lebih berlapang dada dan benar-benar memahami makna 'Innalillahi wa inna ilaihi raji'un'. Ketika cobaan datang, aku berpikir bahwa mungkin Tuhan sedang rindu padaku. Maklum, aku sering kali hanya mengingat-Nya saat mengeluh, dan melupakan-Nya ketika sedang terlena oleh bahagia. Bahagia itu… datang setiap bulan di tanggal 27. Setelah sepekan di perantauan, aku lekas kembali ke kota kelahiran: Malang. Wajahku penuh keluh, dampak dari padatnya persaingan di kota besar. Bagiku, kota adalah hutan belantara. Jika tidak berhati-hati, seseorang bisa tergiur dan terjebak dalam kubangan foya-foya. Yang tak waspada bisa diterkam oleh binatang buas yang menjelma manusia. Ibu dan Ayah adalah alasanku pulang. Tuhan pun adalah alasan jika aku tak bisa berbu...

mantan diantara hujan.

Rintik hujan membuat kenangan menjadi terulang saat semerbak wangi aspal jalanan menjelma bak parfum tubuhmu. Kala duduk berdua di ruang tamu; kala tiap Sabtu aku pergi apel ke rumahmu. Aku tak menyesal pernah menjadi bagian indah dalam hidupmu, atau mungkin menjadi tukang ojek yang siap jika sewaktu-waktu kau membutuhkanku. Meski kadangkala yang kau butuhkan adalah siapa yang mau untuk jadi pelampiasan. Iya, pelampiasan karena lukamu di masa lalu. Kini sakitmu perlahan telah pulih dari bekas luka masa lalu. Dan ketika semakin dirasa sudah saatnya sembuh bersamaku, anehnya kau malah rindu dengan kenangan sakit bersama masa lalumu. Terima kasih, karenamu aku belajar berbesar hati. Karenamu aku belajar membuka hati.

Guru Pengalaman adalah Mantan

Napsu dan Luka yang Membawa Pelajaran Aku pernah merasa dekat, walau sebenarnya hati sudah jauh tak berjumpa. Bodohnya aku dulu menyesal saat tangan kita erat berjabat, tapi dalamnya hati malah melayang ke syahwat semu. Itu napsu , yang sering bikin kita lupa arah dan hati. Dua tahun berlalu, luka itu pelan-pelan sembuh. Waktu menjawab semua tanya yang tak terucap. Aku mulai paham, bahwa cinta itu bukan cuma soal rasa. Di antara kita ada masalah lain yang diam-diam mengikis: uang . Kadang uang jadi dinding yang memisahkan, bukan cuma jarak fisik. Dengan patah hati aku belajar bangkit, meski rasa sakit dan dendam pernah singgah. Kita memang sudah berpisah jalan, tapi bukan berarti doaku untukmu berhenti. Dari perpisahan itu aku belajar hidup tak sekedar merasa cukup, tapi juga bersyukur atas apa yang ada. Aku tak punya mobil untuk memayungimu dari hujan, hanya motor tua yang menemani langkah kita. Tapi itu bukan so...

Penguasa yang bisu

Aku tahu berjalan di hutan belantara akan menemui banyak kesulitan, bahkan tersesat sekalipun. Tak ada keluarga, saudara, ataupun teman. Yang ada hanyalah Alam yang ingin berkomunikasi. Tapi apa yang kucari jika terus nyaman pada instanya kota. Cuci baju sama dengan uang, air bersih sama dengan uang, dan hal lain yang mesti harus dengan uang. Sudah pantaskah jika uang disebut penguasa? Uang dapat membuat sahabat menjadi khianat, uang juga dapat membuat hubungan keluarga menjadi sirna. Bahkan uang suatu saat bisa menjadi agama baru, jika hidup mati kita mengabdi pada selembar kertas yang terus diburu. Dahulu pertama kali aku melihatmu seperti macan betina yang bertaring tajam, siap menerkam siapapun yang tak mau menuruti atasan. Namun hal yang berbanding terbalik saat aku mencoba mulai mendekat dan bertukar pendapat, ternyata sosok macan betina itu pandai mengasuh, membimbing, serta melindungi kesemua anak-anaknya. Terlihat saat sang induk telah berpamit, anak-anaknya sa...

Jawa itu kuno.

Kata orang, di era modern sekarang ini, sebagian generasi milenial mungkin mengesampingkan seperti apa kehidupan sosial mbah buyut kita dahulu kala. Kurangnya pendidikan, penindasan, bahkan penjajahan oleh bangsa asing, memang benar seperti yang diceritakan dari mulut ke mulut. Nyatanya, mbah buyut dulu juga tak pernah tahu tentang teknologi modern, apalagi Revolusi Industri 4.0. Tapi menurutku, teknologi terdahulu yang dimiliki nenek moyang kita adalah kemampuan memaksimalkan teknologi di dalam dirinya sendiri, tidak seperti teknologi sekarang yang terus berinovasi di luar dirinya. Misalnya, sekarang seperti hacker; seorang hacker butuh komputer dan perlengkapan lain untuk bisa mengakses dan membobol identitas seseorang. Namun, di zaman dahulu, seorang dukun mampu menebak identitas seseorang hanya dari nama, tanggal lahir (weton), atau bahkan rambutnya. Bahkan seorang dukun bisa “nge-hack” diri seseorang melalui santet atau pelet, tanpa perlu algoritma lagi. ...

Demi Bangsa dan Negara.

Aku ini bingung. Ingin mengabdi pada negara, tapi aku bukan kalangan militer, juga bukan pegawai aparatur sipil negara. Tiap hari aku merenung, gelisah, dan mencoba berpikir kritis mencari inspirasi di antara bau menyengat sisa ampas makanan tadi pagi di dalam kamar mandi. Lama kemudian, aku jengkel. Sia-sia tenaga, keringatku terkuras gara-gara poop yang dari tadi tak mau keluar. Setelah itu, aku hendak pergi dari kamar mandi, mencoba dengan cara lain, yaitu merokok di depan teras indekos sambil menunggu sang Jibril memberikan wahyu. "Ahaa!" ucapku penuh sumringah. "Ngapain juga mau mengabdi pada negara? Aku kan ini sedang membantu negara. Kok aku gak kepikiran ya? Kan setiap hembusan nafasku sudah disertai cukai-cukai. Semakin banyak aku berhembus, semakin banyak aku urun biaya. Lah, aku juga membantu kampanye negara tentang pemberantasan rokok, ya dengan ini, dengan cara tak bakar tiap hari." Sembari melamun dan tertawa sendiri.

Berprasangka Baik Itu Perlu

Kasihan orang itu, menganggap gunung meletus sebagai bencana dari Tuhan. Gunung pun hanya geleng-geleng kepala, berkata, “Kenapa manusia ini? Padahal aku hanya mengikuti sunah dari Yang Maha Kuasa. Memang begini caraku beribadah, cara aku bertasbih kepada-Nya, demi menjaga keseimbangan alam semesta.” Orang itu pun seketika panik. Ia mengungsi, mengais barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan. Tapi waktu terasa begitu singkat. Dengan penuh penyesalan, ia terpaksa ikut naik ke truk tim SAR. Dalam perjalanan, ia teringat dosa-dosanya selama ini dan kemudian bertobat pada Tuhan. Sebagai penggembala dan petani, ia tertegun saat melihat banyak ternaknya mati, dan ladang yang dulu akan ia panen kini lenyap ditelan awan panas. Setahun kemudian, setelah situasi mulai kondusif, ia kembali ke rumahnya di lereng Gunung Kelud. Ia bersyukur, ternyata apa yang ia anggap bencana justru membawa hikmah. Tanaman yang dulu rusak kini berubah menjadi tanah yang makin...

Kunang-kunang.

Setitik tinta di atas kertas adalah pusat perhatian manusia. Sepasang rakaat di tengah malam adalah pusat perhatian alam semesta. "Plaur ta arek iku, kancane kabeh padha turu, malah njupuk banyu wudhu," tanya sang malaikat. Lalu para malaikat menyaksikan betapa indahnya titik cahaya putih di antara kegelapan malam, yaitu manusia yang mampu memancarkan cahaya seperti kunang-kunang.

Kenapa Nyamuk Diciptakan?

Aku pernah sesekali berpikir, kenapa sih Tuhan menciptakan nyamuk? Ngang... nging... ngang... nging... Suaranya bikin risih di telinga saat hendak tidur malam. Apalagi gigitannya juga membuat gatal dan bentol-bentol. Bahkan, ada jenis nyamuk tertentu yang membawa penyakit. Dalam keterbatasan ilmu, aku hanya mampu memahami bahwa nyamuk diciptakan sebagai rantai makanan bagi cicak. Lambat laun, seiring kegelisahanku terhadap perilaku seseorang dalam suatu pekerjaan, aku mulai memahami karakter seekor nyamuk. Yaitu orang yang kelakuannya hanya mengganggu orang lain, sehingga tidak disukai manusia lainnya. Mencari nafkah dengan menyakiti dan mengambil hak orang lain, dan bila makan suka berlebihan hingga akhirnya mati karena kekenyangan (QS. Al-Baqarah: 26).

Definisi Mantan.

Njing Tau anjing gak sih? Anjing itu penurut dan setia sama majikannya. Tapi beberapa hari ini aku sempat dilanda kecewa... Dia nggak pernah pulang lagi ke rumah. Gak mungkin seekor anjing lupa di mana rumah majikannya. Beberapa waktu kemudian, aku kaget. Bahkan nggak nyangka—dia muncul di linimasa sosial media. Ia terlihat bahagia... Sama majikan barunya. Upload foto, story berdua. Senyum-senyum, manja. Penuh cinta. Ya, mirip banget sama masa-masa awal dulu waktu aku rawat kamu, Njing. Waktu kita masih bareng, belum kamu tinggalkan. Ya sudah... Biar waktu yang ngelap luntur kenangan. Bagaimanapun juga, kamu tetap anjingku— Yang lagi tersesat di tangan orang yang nggak tahu caranya menjaga.

Definisi sukses

Menyulam Sukses dan Makna Hidup Memperjuangkan kemenangan sendiri, kadang justru memperlihatkan kelemahan diri— karena kadang kita terlalu menuntut, hingga lupa arti dari perjuangan itu sendiri. Sukses bukan soal nominal yang banyak, atau apa yang orang lain punya. Sukses itu ketika kemampuan kita melebihi batas keinginan, bukan sebaliknya. Aku pernah kehilangan, tapi Tuhan selalu menggantikan. Digantikan dengan yang lebih menawan, dan bahkan ditambah dengan pekerjaan baru— yang kadang bikin aku makin sadar, bahwa hidup itu bukan soal apa yang hilang, tapi apa yang bisa kita jalani dan syukuri. Belajar mengingat, berjalan mendekat, meski aku tahu aku sering jual mahal pada Tuhan. Maafkan aku, ya Tuhan, yang kadang lebih sibuk dengan egoku sendiri. Aku ini seperti pohon sengon, bentukku mungkin bengkok, makanya aku terus merapal doa ihdinas sirotol mustakhim , agar aku tetap lurus di jalan yang benar. M...

sebenarnya kita sudah tak lagi sejalan.

Dua tahun berlalu, hati perlahan mulai pulih, dan waktu seolah menjawab semuanya. Ternyata, sakit di masa lalu itu adalah rencana Tuhan: bersamamu. Perlahan hati yang sunyi ini menyadari betapa bodohnya aku menyesali kejadian malam itu. Dengan berat kau mengucapkan bahwa sebenarnya kita sudah tak lagi sejalan. “Kenapa?” — itulah jawaban yang terus kucari selama ini. Dengan patah hati, aku mulai bangkit membawa rasa sakit. Dengan dendam yang membara, aku tak mau membiarkan jiwaku padam. Meski jalan kita sudah berbeda arah, meski raga kita tak lagi saling bertemu, berpisah bukan berarti hati ini berhenti saling menyapa dalam doa. Semoga kau bahagia dengan pasangan barumu yang kini kau umbar di linimasa. Terima kasih telah pernah hadir dan singgah. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik bagi kita masing-masing. Selepas kau menikah, aku sempat berharap pada raga Dahlia. Kita pernah saling bertukar cerita tentang masa lalu. Ingatkah kau? Sesaat kemudian, kau tiba-tiba men...

Sawang Sinawang

pendidikan Kenapa harus mahal? Ya memang harus mahal dong. Mahal tapi gak cuma soal uang. Ada loh orang yang dihargai karena kemampuan. gaji Kalau ditanya kerja apa? Aku belum kerja, aku lagi belajar. Belajar cari uang. Ke depan, biar nanti uang yang mencari-cari saya. Dan mantan juga. Karena uang yang butuh saya, bukan saya yang butuh dia. vape Sekali semprot 1 detik. Bebas nyamuk 10 jam. Aku bales chat kamu cuman 1 detik. Kamu balesnya 10 jam.

Mengemis masa lalu

Surat dari Tuhan: Hidup, Luka, dan Perjuangan Hidup itu bukan cuma soal uang, tapi cukup uang buat hidup, itu penting. Ada yang tidur nyenyak dengan cukup uang, ada juga yang gelisah karena merasa kurang. Aku bukan mantanmu yang merengek, atau merayu supaya kau balikan lagi menghapus salah lalu yang sudah terjadi. Aku datang bukan buat cari simpati, dan perjuangan aku bukan untuk mengintai hidupmu. Aku dendam, iya, dendam ingin lebih baik dari kemarin. Sekarang waktunya aku perbaiki hidupku, bukan memperbaiki hubungan kita. Kau cuma jadi bagian sejarah, sepotong cerita yang membekas dalam hidupku. Buat apa patah hati kalau kau sendiri yang menyesal? Bukankah luka itu buat ngajarin kita arti sembuh?

Mencintai selain Tuhan?

Lucunya, tiap selepas lima waktu aku tak pernah lupa mendoakanmu. Setulus-tulusnya, sekhusyuk-khusyuknya, seikhlas-ikhlasnya, berharap Tuhan mendengar bahwa aku benar-benar rindu padamu dahulu kala. Lalu aku tiba-tiba merasa malu sendiri. Ternyata cintaku pada manusia bisa lebih besar dari cintaku pada Tuhan yang selalu aku mintai pertolongan. Padahal, berdoa dan beribadah itu bukan untuk kepentingan diri sendiri semata. Doa adalah untuk keselamatan setiap hamba yang tunduk dan berserah kepada Sang Kuasa. "Jangan tanya mau melangkah ke mana, belajar berdiri di kaki sendiri saja masih belum bisa." *** Keterbatasan pengetahuan adalah anugerah terindah dari Tuhan. Kita sering kali terlalu memikirkan hal-hal besar, sampai hal kecil justru terabaikan. Misalnya, dengan uang segini aku bisa beli ini dan itu. Padahal, baru sadar celana panjangku cuma satu. "Hal yang paling sulit menurutku bukan menggapai cita-cita atau meraih kesuksesan. Melainkan mencari jawaban mengap...

belajar dari pengamen

Substansi yang Kutemukan dari Dua Pengamen Patah hati itu wajar, yang nggak wajar itu kalau ngungkapinnya dengan cara-cara yang destruktif. Menyakiti diri sendiri, menyalahkan dunia, apalagi mengganggu orang lain, itu bukan solusi. Justru patah hati seharusnya jadi titik balik buat ngerombak diri, bukan ngerusak. Dendam sama masa lalu? Boleh. Tapi kalau dendammu itu cuma buat nyeret-nyeret luka lama tanpa arah, ya percuma. Dendam yang baik itu adalah yang mendorong kita jadi versi terbaik dari diri kita. Biar sakitnya jadi bahan bakar, bukan bara yang dibakar terus menerus. Sore itu, selepas kerja, aku buru-buru ke Terminal Purabaya. Di dalam bus Sumber Selamat, dua pengamen tampil sederhana tapi nyentuh. Musiknya biasa aja, tapi yang berkesan justru obrolan mereka setelahnya—di tengah senja, di bangku belakang, sambil duduk di atas jimbe dan menggenggam ukulele lusuh. "Waduh, Kang, dino iki sepi banget yo? Ngamen rong bis wae, arep maghrib mulih, rasane durung cukup nggo n...

Dari Tuhan Kembali ke Tuhan.

Filosofi Rental Mobil Pada waktu ke Trenggalek dulu, ayah mengobrol panjang lebar dengan sopir rental yang kebetulan adalah anak dari teman ayah sendiri. Di tengah-tengah mereka asyik berbincang, ada obrolan unik ketika ayah dengan polosnya berkata: "Weh tepak bensine wis kebek, gausah mampir pom," celetuknya. Lalu kemudian si sopir itu menyahut, "Jadi gini pak, kalau nyewa mobil itu dari bensin full juga harus kembali full, sisa 1 strip juga harus kembali 1 strip," jawabnya sambil menjelaskan. Wah, mungkin kalau manusia yang rental roh dari Tuhan dalam keadaan suci, kembalinya juga harus suci juga dong, hehe. Manusia Sedikit Kata Ketika akan berangkat kerja, aku bercerita pada kawan sembari berjalan menuju pabrik tentang mimpi: di usia 40 tahun aku harus bisa punya rumah sendiri. Lalu seseorang kawan indekos menegurku, "Iyo lek umurmu nyampe semono," ucap lelaki gondrong yang menobatkan diri sebagai manusia sedikit kata. Dari sana aku be...

Berjalan dimasa lalu

Waktu begitu cepat berlalu. Tapi aku, ya aku, masih saja berkutat—berputar-putar di pusaran masa lalu. Hari-hari yang datang dan pergi terasa seperti pengulangan, tak ada yang benar-benar berubah. Tahun demi tahun, aku tambah tua, tapi rasanya... belum juga bisa berbuat apa-apa. Bagiku, nggak salah kalau manusia punya galaunya masing-masing. Toh, kadang galau itu jadi cambuk, jadi pecut buat tetap berkarya. Mungkin itu juga sebabnya aku lebih nyaman disebut karyawan daripada buruh . Entah kenapa, lebih terdengar punya harapan. Maaf ya, Pak, Buk. Anakmu ini, yang tambah tua tapi belum juga bisa bikin kalian bangga. Aku lebih memilih pura-pura lupa di hari ini. Soalnya, buat apa juga ucapan selamat di media sosial kalau nggak bisa salaman langsung, saling mendoakan, dan saling peluk dalam diam? Maaf juga untukmu. Aku tahu kau sudah dewasa, lebih dulu matang dibanding aku yang masih kekanak-kanakan. Kau yang butuh kepastian, sementara aku masih sibuk mengejar masa depan yang belum ...

Aroma Nafas Masa Lalu

Njing, Aku Tahu Sekarang Kesal, marah, bahagia—semuanya melebur jadi satu saat nawalamu datang tanpa permisi melalui gawai tercanggihku. Kabar itu menampar: bahwa kau sebentar lagi akan melangsungkan resepsi, tinggal menghitung hari. Baru kusadari, kenapa malam kemarin semerbak wangi tubuhmu tiba-tiba mengisi kamar indekosku. Kenapa pula pekan lalu kau datang, seraya mengucap pamit dalam mimpi itu. Mungkin memang ini cara Tuhan kasih kode: cukup sampai malam ini aku menyimpan harapan. Lega... diiringi rasa gelisah. Aku mulai membayangkan, bagaimana rasanya kita yang dulu saling sayang, kini hadir hanya sebagai tamu undangan. Kita yang pernah berjanji menatap masa depan bersama, kini hanya ingin saling mengubur kenangan. Dulu aku punya seekor anjing, masih belia. Dan karena saat itu aku cuma penjaga parkir, rasanya mustahil aku bisa merawatnya dengan layak. Ingin kujual—tapi sayang. Ingin kurawat—ah, dompetku tak cukup tebal. Akhirnya, kupilih jalan pedih tapi logis: membiarka...