Langsung ke konten utama

Sahabat Pelosok Negeri

Dahulu aku pernah mengenal sahabat yang rumahnya jauh di pelosok negeri. Tapi itu dahulu, dan sepertinya terlalu berlebihan aku menyebut dimana tempat tinggal rumahmu.

Berawal dari kawan yang coba memperkenalkanmu di sosial media, kau dan aku semakin lama semakin akrab.

Hingga aku ingat dahulu pernah nekat pergi ke rumahmu bersama Edo, berbekal uang 20 ribu dan bermodal GPS.

Seminggu setelah hari raya Idul Fitri yang orang Jawa menyebut sebagai Hari Raya Kupatan, aku dan Edo berjanji untuk berangkat di awal pagi. Jam menunjukkan pukul 06:30 WIB, aku menunggu Edo di depan teras rumah. Kemudian Edo datang menjemputku.

Pukul 08:00 aku tiba di Waduk Lahor, berhenti sejenak dan mengabadikan foto melalui Blackberry milikku.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan dan sampai di Kota Blitar, aku yang bermodal GPS hanya mengarahkan Edo untuk belok kesana kemari. Hingga akhirnya aku mulai bimbang dengan peta, karena dulu GPS tak secanggih sekarang.

Memang benar pepatah bilang, "Malu bertanya sesat di jalan". Aku dan Edo memutuskan untuk bertanya pada seseorang di pinggir jalan.

"Pak, permisi, arah jalan ke Tulungagung kemana ya?" tanyaku.

"Iya dik, tadi seharusnya kamu di pertigaan belok ke kanan, bukan lurus. Nanti disitu kamu lurus mengikuti jalan beraspal," ujarnya.

"Nggih pak, terima kasih," ucapku.

Akhirnya kami harus berputar balik. Rute yang kami lalui memang bukan jalur utama yang sebagian lewat Wlingi, tapi kami ingin lebih cepat lewat Kanigoro.

Pukul 10:00 WIB aku sampai Jalan Campurdarat, bahan bakar motor kami habis dan mengharuskan mampir ke pom bensin terdekat. Sesampainya di pom bensin, aku lantas bertanya pada operator untuk memastikan arah.

"Pak, arah ke Desa Gombang lewat mana ya?"

"Anu dik, nanti lewat sini belok kanan. Lurus terus 2 kilometer, nanti ada patung polisi, belok kanan. 1 km dari situ, nanti kiri jalan ada gapura Desa Gombang," ujarnya.

"Oke pak, terima kasih."

Kemudian aku bingung mencari-cari dimana pos polisi. Katanya 2 kilo dari sini, tapi kok nggak ada. Saking lelahnya, aku mampir ke salah satu toko membeli minum sembari bertanya lagi.

Benar saja, ternyata yang dimaksud patung polisi itu rupanya pos polisi. Maklum agak sedikit berbeda gaya bahasa orang Mantraman dengan orang Malangan.

Jam 10:30 WIB aku dan Edo telah sampai di depan gapura desa bernama Dusun Gombang. Jalan setapak dengan kontur tanah makadam kami lewati dengan motor matic. Setelah melewati persawahan, kami singgah di warung sembari membeli minum dan rokok.

Aku menghubungi salah satu kawan di desa tersebut, namun sialnya, dia cengang satu. Memang di desa ini sulit sekali sinyal, dan sinyalku hanya menandakan EDGE. Aku bertanya pada warga sekitar, tak ada yang tahu.

Setelah hampir satu jam kami terlantar, tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari arah saku. Ternyata rumahnya ada di belakang sawah yang aku lalui tadi. Sejenak menghela nafas, aku mengikutinya sembari menunjukkan jalan ke rumahnya.

Kami dipersilahkan masuk, neneknya menyambut hangat di kursi lama di ruang tamu dengan meja yang dihiasi toples khas jaman dahulu.


2019

Januari mengawali tahun di pantai.
Desember mengakhiri tahun di rumah sendiri.

Belajar dari pasang surut air laut.
Belajar dari bakar-bakar nafsu keinginan.
Lalu menyalakan petasan, bahwa mental jika ditempa/dibakar akan membuat keindahan.
Candradimuka.

Positif saja, kan sekarang aku lagi jauh mencari ilmu. Gak mungkin juga kan tiap waktu aku ada di sampingmu.

Maka dari itu, aku menganggapmu adalah sapi yang sedang kutitipkan pada seseorang untuk merawatmu.

Dan tatkala sapi itu sudah dewasa, mungkin aku akan siap menjadi yang pertama membelikan maskawinmu?

Memori hujan bersamamu, di dekat pabrik gula di selatan kota rupanya sampai terbawa ke alam mimpi.

Kau adalah kisah dari sejarah perjalanan.
Pahitmu menguatkan, janjimu menyakitkan.

Di akhir tahun aku berharap, agar denganmu aku tak lagi berharap.
Menutup hati, dan Ctrl+N.

Selamat akhir tahun, selamat tutup buku.
Mengawali perasaan, membuka hati.

Di dalam pertemanan tidak ada kata putus,
Yang ada hanyalah pupus. Iya, pupus cuma dijadikan teman.


Berangkat dari bypass menunggu lama sekali, banyak bus ekonomi yang kelihatan sudah penuh. Maklum kan ini tahun baru.

Aku sampai lupa narik uang di ATM. Alhasil harus jalan kaki ke Waru dan terpaksa gojek di sekitar Bungurasih. Tiba di jalur 6 pukul 17:00. Bus sudah berangkat. Lagi-lagi aku kudu sabar menunggu bus berikutnya.

Jam 18:00 berangkat dengan armada Patas PO Harapan Jaya menuju Tulungagung.

Huh, salah bus. Ternyata hanya sampai di terminal Tulungagung. Padahal tujuanku adalah di Trenggalek. Sial di Kertosono macet, dan di Kediri ada perbaikan jalan sehingga membuat jadwal yang aku susun jam 9 ternyata sampai jam 10:30.

Dari terminal Durenan sepi, katanya ada angkot tapi jam terlanjur malam. Untung ada Bang Grab satu-satunya yang ada. Bergegas lalu aku pesan dari terminal Durenan ke pasar Bandung.

Setiba di pasar Bandung Tulungagung, tak seramai di kota Malang. Jalanan sepi ditemani beberapa penjual makanan di tepi jalanan.

Naas, warung kopi pun sepi, tak ada wifi pun juga tak ada akses cas untuk HP.

Perut sudah keroncongan dan aku segera memesan nasi goreng.

Sebenarnya ada temanku dari Tulungagung, tapi gegara kemaleman ia takut untuk menemui. Maklum ia perempuan dan aku mengerti.

Dengan susah payah aku tanya kepada pak polisi yang bertugas menjaga akhir tahun tentang penginapan terdekat, alhasil tak ada penginapan satupun dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur di masjid saja.

Wajah sinis dari arah berlawanan, ada remaja masjid yang mengur. Lalu kemudian KTP ditahan agar mengurangi tindakan kejahatan bagi pendatang.

Tak terasa suara adzan subuh menggema, dan perlahan aku membuka dari kantuknya mata.

Setelah matahari pagi menyingsing aku mencoba menghubungi kawan yang katanya akan menemuiku. Ternyata gagal lagi, ia sedang repot dengan pekerjaan rumah tangga, ya maklum ia perempuan.

Lalu aku hubungi 2 teman satunya lagi. Ahh lagi-lagi, katanya ia ada acara menghadiri khataman Al Quran, dan satunya lagi bahwa ia berujar kalau sudah tunangan, jadi ia takut untuk berpergian.

Tanpa pikir panjang jam 06:30 aku langsung berpamitan pada takmir masjid. Dan acara yang seharusnya menjadi reuni terpaksa kuganti dengan wisata edukasi, mungkin ke Istana Gebang dan ke makam Bung Karno di Blitar.

Dari masjid aku harus memesan Grab ke pertigaan Durenan.

Setengah jam kemudian aku langsung tiba di pinggiran jalan sembari menunggu bus datang.

Perjalanan ini mengajarkan bahwa terkadang tujuan bukan hanya tentang tempat yang kita ingin tuju, tapi tentang bagaimana kita bertahan menghadapi ketidakpastian di setiap langkah.

Kesabaran adalah kunci utama saat segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana. Macet, salah bis, atau rute yang berubah, semua itu adalah ujian kecil yang memperkuat tekad dan mental kita.

Jarak dan waktu bisa memisahkan rencana, namun bukan berarti memisahkan harapan dan keinginan. Meski teman tak selalu hadir saat kita butuhkan, perjalanan terus berlanjut dengan doa dan harapan yang tak pernah putus.

Dalam kesendirian dan keheningan, kita belajar menemukan kedamaian. Tempat paling sederhana sekalipun bisa menjadi pelabuhan hati, jika kita mampu mengisinya dengan rasa syukur dan keteguhan.

Perjalanan ini juga mengajarkan arti kerendahan hati, bahwa tidak semua yang kita inginkan akan datang tepat waktu. Kita harus siap menerima keadaan dan belajar dari setiap peristiwa yang terjadi.

Dan akhirnya, setiap langkah, meski berat dan penuh rintangan, adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menyambut hari baru dengan harapan yang baru pula.

Komentar