27 adalah tanggal yang paling aku rindukan. Selepas seharian bekerja, aku bergegas menuju mesin ATM di Indomaret untuk mengambil gaji dan berbelanja kebutuhan sebulan.
Namun kepanikan melanda saat melihat saldo di layar. Gaji yang kuterima nyatanya tak cukup jika dibagi untuk cicilan, orang tua di rumah, dan biaya hidup sebulan ke depan. Padahal aku juga sedang menabung demi membeli peralatan fotografi—sekadar menuruti hobi yang sudah lama kupendam.
Dengan wajah lesu, aku hanya mengambil barang-barang yang benar-benar perlu, lalu keluar dari minimarket dengan langkah gontai.
Di tengah kebingungan itu, seorang kakek berpakaian lusuh menghampiriku. Tanpa berpikir panjang, aku merogoh saku dan memberinya recehan kembalian. Namun lirih terdengar ucapannya dalam bahasa Jawa, seolah menyindirku:
"Cung, nek gajimu saiki ra mok syukuri, masio gajimu sepuluh juta kowe panggah sambat. Godamu saiki mung setitik ketimbang sesuk pas gajimu gedhi. Mergo kowe sampek mati yo tetep duwening rahsaning karep."
Ujar kakek itu sembari merapikan motor pengunjung lain yang menghalangi jalanku.
Komentar
Posting Komentar