Langsung ke konten utama

Urip Mung Mampir Ngombe

27 adalah tanggal yang paling aku rindukan. Selepas seharian bekerja, aku bergegas menuju mesin ATM di Indomaret untuk mengambil gaji dan berbelanja kebutuhan sebulan.

Namun kepanikan melanda saat melihat saldo di layar. Gaji yang kuterima nyatanya tak cukup jika dibagi untuk cicilan, orang tua di rumah, dan biaya hidup sebulan ke depan. Padahal aku juga sedang menabung demi membeli peralatan fotografi—sekadar menuruti hobi yang sudah lama kupendam.

Dengan wajah lesu, aku hanya mengambil barang-barang yang benar-benar perlu, lalu keluar dari minimarket dengan langkah gontai.

Di tengah kebingungan itu, seorang kakek berpakaian lusuh menghampiriku. Tanpa berpikir panjang, aku merogoh saku dan memberinya recehan kembalian. Namun lirih terdengar ucapannya dalam bahasa Jawa, seolah menyindirku:

"Cung, nek gajimu saiki ra mok syukuri, masio gajimu sepuluh juta kowe panggah sambat. Godamu saiki mung setitik ketimbang sesuk pas gajimu gedhi. Mergo kowe sampek mati yo tetep duwening rahsaning karep."

Ujar kakek itu sembari merapikan motor pengunjung lain yang menghalangi jalanku.

Urip Mung Mampir Ngombé

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...