Langsung ke konten utama

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur:

"Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama

Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab:

"Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri

"Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama.

Kemudian datang kawan kami bernama Abu Dablang dengan menentang.

"Jangan suka mengambil klo bukan haknya, bossku. Mengambil bukan haknya itu namanya mencuri". Dengan lantangnya ditengah obrolan kami.

"Mungkin minta air tapi gak ngomong, tapi loh ada air RO (Reverse Osmosis) DAP (Singkatan dari: PT Dayasa Aria Prima). Kenapa yang diambil kok Aqua?". Sahut Daytama

Kemudian Heri tak mau kalah dengan Abu Dablang bahwasanya kita tak perlu iri dengan mereka yang tak mau membayar iuran bulanan dengan berkata:

"Sedekah tidak akan membuatmu menjadi miskin" Ujar Heri.

Namun Abu Dablang tak setuju dengan konsep Heri. Kita semua sama-sama punya kebutuhan dan kita digaji sama rata dengan perusahaan. Kemudian menjawabnya:

"Orang sedekah itu juga ada tempatnya. Sedekah buat orang orang yg tidak punya penghasilan tetap tiap bulan, itu baru kita sedekahi". dengan nada agak emosi.

Heri tetap bersikukuh dengan prinsipnya bahwa kebutuhan antar karyawan berbeda-beda meskipun sama pendapatanya. Abu Dablang pun sama bersikukuh bahwa ia pun juga punya kebutuhan namun ia juga memiliki tanggungjawab untuk membayar iuran. Teman kami yang tak ikut membayar pun setuju perkataan heri sambil mengingat kisah dalam agama islam bahwa pernah ada zaman dahulu seorang pelacur masuk surga gara-gara ia memberi minum seekor anjing yang kehausan. Heri pun jumawa bahwa dia merasa banyak orang yang setuju dengannya. Abu Dablang dengan kepala yang mulai agak dingin menjelaskan pada Heri tentang kisah tersebut harus sesuai tempatnya atau harus melihat substansinya.

Heri menjelaskan juga bahwa kita tak tahu amal kita yang mana yang akan diterima Allah SWT dan Abu Dablang pun menyetujui perkataan Heri.

"Bukannya aku menggurui apa yang kamu pelajari tentang suatu cerita yang beda tempat dan keadaannya tanpa melihat substansinya. Kalau kekeh sama prinsip kalian sendiri-sendiri perdebatan ini gak akan ada jalan penyelesainnya". Imbuhnya.

"Intinya gini, kalau bukan haknya jangan diambil. Itukan yang mengajarkan agama pada kita. Apa hubungannya sama sedekah?". Tambahnya.

"Kalau menurut kamu bukan haknya diambil orang, terus kamu anggap sedekah, angel wes". Pungkasnya

Kemudian Abu Dablang memberi perumpamaan kepada Heri. Jika motor kamu dicuri maling, apakah hal tersebut layak dianggap sedekah?. Bagaimana kalau begitu terjadi padamu?. Sedekah itu kita memberi, bukan mengambil yg bukan haknya. Percakapan tersebut membuat Heri mengangguk-angguk disela hawa panas siang hari sambil mencerna perkataan Abu Dablang.

Dari peristiwa ini kita mengambil kesimpulan bahwa prinsip Heri tersebut memang benar kalau kita niat ikhlas memberi maka akan berpahala, tetapi berlaku pada individu-individu. Namun kemudian akan membuat salah jika prinsip Heri di umumkan pada semua karyawan karena karyawan tak bayar iuran tentu akan mengharapkan pada karyawan yang rutin membayar.
Sementara dari sudut pandang Abu Dablang kita belajar tentang ilmu disiplin. "Tak mau membayar tapi ikut meminum namanya mencuri".

Prinsip tersebut berlaku bagi khalayak umum agar menstimulasi bagi yang tak ikut membayar malu dan ingat dosa bahwa apa yang diminumnya sehari-hari adalah bukan Haknya.


Bahkan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersumpah

"Demi Allah, bahkan seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya!”. Buku “115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW”. Dikutip dari riwayat Aisyah RA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal jodoh

Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...