Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati.
Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.”
Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang.
Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru membuka usaha.
"Dit, nanti kamu yang bayarin ya. Soalnya kalau aku yang bayar, dia pasti nolak. Kasihan, dia baru buka."
Hatiku jleb. Lurus. Dalam. Kesempatan itu datang... tapi kenapa justru sekarang?
Aku hanya diam. Mengangguk perlahan. Tapi dalam kepalaku mulai berputar. Aku buka ponsel, cari kontak, kirim pesan ke sana-sini. Mencoba pinjam. Tak ada yang membalas. Tanganku dingin. Hatiku panas. Tapi wajahku tetap biasa. Tak boleh terbaca.
Kami duduk. Aku memesan seperti biasa. Pecel lele dan es teh. Aku menatap piringku. Masih utuh. Beliau sudah mulai makan. Beliau melihat piringku, "Kok nggak dimakan, Dit?"
Aku tersenyum pelan.
"Iya ini, Mas... masih panas. Nunggu dingin dulu."
Sambil kugenggam gelas teh hangat yang juga hampir dingin. Seperti harapanku.
Tuhan menyelipkan jawabannya dari celah sempit. Di sebelah warung, kulihat lampu kecil bertuliskan BRILink menyala samar. Mungkin tak semua mata akan menangkapnya. Tapi malam itu, aku menangkap pertolongan kecil itu lebih hangat dari teh, lebih bernilai dari uang.
Aku masuk, tarik tunai kecil dari kredit yang bahkan tak ingin kusentuh. Tapi aku sudah memilih: menjaga harga diriku, dan juga harga diri orang yang selama ini menjagaku.
Makan selesai. Aku cepat-cepat keluar, menyalakan motor. Beliau sempat hendak mengembalikan uangku, tapi aku menolak. Kubilang sambil nyalakan mesin, "Sudah, Mas… saya aja."
Dan aku pulang malam itu, melewati jalan panjang dari Driyorejo ke Kemlagi. Jalan yang gelap dan lengang, tapi hati ini lega. Bukan karena aku bisa makan, bukan karena aku berhasil bertahan.
Tapi karena malam itu, aku tidak kehilangan harga diri.
Dan lebih dari itu… aku berhasil membalas, dengan cara yang tidak menyakiti siapa-siapa.
Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Komentar
Posting Komentar