Langsung ke konten utama

Tentang Penulis

Ardita Rizki Fauzi, yang juga dikenal dengan nama pena *Mcardhy*, lahir pada 23 Februari 1999. Ia berasal dari Malang dan saat ini merantau untuk bekerja di kawasan industri Driyorejo, Gresik. Ayahnya berprofesi sebagai tukang batu, sementara ibunya merupakan buruh pabrik. Latar belakang keluarga yang sederhana menjadi salah satu motivasi terbesarnya untuk terus berkembang.

Bakat menulis Ardita mulai terlihat sejak masa remaja, ketika ia aktif membagikan pemikirannya melalui media sosial. Selepas lulus dari SMK, ia sempat mengalami masa-masa sulit dan kehilangan arah, di tengah tuntutan untuk ikut menafkahi keluarga sebagai anak sulung dari tiga bersaudara.

Pernah bekerja sebagai juru parkir di terminal dekat rumahnya, Ardita menyadari bahwa penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak mencukupi. Kesadaran itulah yang mendorongnya menempuh "jalan sunyi" dengan menerima pekerjaan di salah satu perusahaan kertas ternama di Indonesia. Pilihan itu menjadi titik balik dalam hidupnya untuk bangkit dan menata masa depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...

Pamrih

Meski beribu-ribu kebaikan dilakukan, nyatanya yang diingat oleh orang adalah satu kali keburukan. Baginya, keburukan akan menyakitinya selamanya, tetapi kebaikan hanya akan dirasakannya sesaat. Bukan hidup ini yang tak adil—mungkin Tuhan hanya menguji seberapa ikhlas kebaikanmu. Jika pamrih yang kau cari, wajar saja jika di kemudian hari kau sakit hati. ☺️ Ya Tuhan, katanya semua harimu itu adalah baik. Lalu kenapa ketika aku akan menggenapkan ibadah justru terhalang oleh hari yang dianggap buruk? Entah, masa depan memang bisa diprediksi. Tapi keakuratan akal manusia juga tak bisa jadi tumpuan. Kun, fayakun. Laa haula wala quwwata illa billah