13 Juli 2019
Sabtu adalah hari yang hampir ditunggu-tunggu oleh para pekerja buruh. Setelah satu minggu, pulang adalah tujuan utama. Sebagai anak, orang tua di rumah sudah pasti menunggu. Seperti biasanya, aku pulang nunut bersama temanku bernama Arul.
Arul adalah adik kelasku dulu waktu SMK.
Barang-barang sengaja sudah ku siapkan tadi pagi agar ketika pulang, aku tinggal bergegas menuju rumah. Arul pun sudah bersiap dengan helm teropongnya. Ada satu lagi temanku, “Atta” (tapi tanpa halilintar), laki-laki yang lebih pendek dariku dengan ciri khas rambut semir putihnya. Satu angkatan SMK dengan jurusan yang sama, tapi kami hanya berbeda kelas. Lucunya, kami baru kenal waktu di tempat bekerja.
Kami dengan Atta sempat berpisah, ia bilang akan lewat jalur Cangar-Batu, sementara aku dan Arul lewat jalur Prambon-Sidoarjo.
Rumah Arul ditempuh sekitar satu jam lebih dari tempat kami bekerja, sementara dari rumah Arul ke rumahku harus menempuh satu jam lagi. Karena itu, aku meminta Arul menurunkanku di halte bus Indomaret Taman Dayu Pandaan.
Beberapa saat setelah sampai di halte dan sedang menunggu kedatangan bus, ada dua orang perempuan menyapaku.
“Mas, mau kemana? Ke Malang?”
Ujarnya.
“Iya mbak, mbaknya mau kemana?”
“Ini loh, aku nganterin temen, dia mau ke Malang tapi dia baru pertama kali naik bus.”
Terlihat salah satu perempuan tersebut tergesa-gesa. Maklum, hari semakin senja dan bus juga tak kunjung tiba.
“Udah, kamu sama mas ini aja ya?”
Ucapnya.
“Dia juga ke Malang kok. Mas, nitip temenku ya?”
Aku mendadak speechless. Seorang perempuan berbaju kuning dengan kunciran rambut yang sampai lehernya terlihat. Dengan tersipu malu, kami saling curi pandang. Ia makin cantik ketika terlihat kepanasan di atas kursi plastik pinggir jalan.
“Jangan GR dulu,” ujarku dalam hati. “Mimpi apa aku semalam?” Hati mulai dag-dig-dug tak karuan.
Teman dari perempuan itu barusan pamit meninggalkannya, dan ia nampak agak canggung ketika aku menanyainya.
“Kamu mau naik patas?”
“Enggak tau mas, pokoknya yang ke Malang.”
Ujarnya sambil menoleh ke jalan.
“Eh mas, itu ada bis, ayo naik!”
Tapi penumpang terlihat sesak dan berdiri penuh. Bus itu juga tidak ada AC-nya. Jadi kami membatalkan naik bus yang barusan lewat.
Pukul 15:45 WIB
Saat kami asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah jalan.
“Malang! Malang! Pandaan! Pasuruan!”
Teriak kondektur dengan lantang.
Tanpa sengaja, tanganku sudah berada di pergelangan tangan kanannya dan segera menariknya dari kursi plastik coklat, lalu kami berebut masuk bersama penumpang lain. Hari ini penumpang sangat ramai sehingga kami harus sabar berdiri di kerumunan. Jarak kami sempat terpisah karena banyak penumpang yang naik turun. Akhirnya, ada satu kursi kosong di bagian belakang, dan aku mempersilahkan dia duduk duluan.
“Mbak, duduk duluan aja.”
“Loh, silahkan duluan mas. Masnya udah kelihatan capek.”
Memang capek, setelah seharian bekerja lalu bergegas menuju rumah, menunggu bus berjam-jam dan akhirnya tidak kebagian kursi. Tapi sebagai laki-laki, rasanya tidak memungkinkan duduk duluan sementara ada perempuan yang lebih lemah. Gengsi dan ingin tampil kuat di hadapannya. Wkwkwk.
“Masih jauh, tidur dulu, nanti aku bangunin.”
“Iya mas, beneran lo.”
“Iya say,” jawabku dalam hati.
Seringkali ketika menaiki bus, penumpang mengabaikan moral dan sosial terhadap penumpang sekitar. Kami memang sama-sama membayar, tapi prihatin ketika laki-laki yang masih kuat tenaga tidak mau mengalah kepada penumpang tua yang berebut kursi.
Hari semakin sore, dan akhirnya aku mendapatkan kursi di daerah Lawang. Jarak Lawang ke Malang sekitar 30 menit. Lebih baik bersandar sambil mendengar lagu pengamen bus antar kota yang itu-itu saja, daripada bersandar pada bahu mantan sambil berharap balasan yang itu-itu saja.
Pukul 17:33 WIB
Terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Bagi yang pernah naik bus ke Malang, pasti tidak asing dengan terminal bayangan bernama Taspen. Banyak penumpang memilih turun di pertigaan Taspen karena jaraknya lebih efisien untuk oper angkutan kota atau bus antar kota lain daripada turun di terminal dan harus naik ojek lagi.
Sesekali aku menoleh ke belakang, melihat dia masih tertidur pulas. Mungkin karena kepanasan menunggu bus berjam-jam. Sebentar lagi bus akan sampai. Aku merapikan barang bawaan dan bersiap berdiri menuju belakang. Rupanya dia sudah bangun karena ramainya penumpang yang akan turun di parkiran.
“Kamu dijemput?”
“Iya, aku disuruh nunggu di Indomaret. Dimana ya?”
“Iya, nanti setelah turun ikut aku aja, kebetulan aku juga mau kesana.”
Krrckkkkkk... perut ini tak tertahankan, sudah mulai berorasi sejak sore tadi.
Aku segera turun dan meminta dia mengikuti di belakang.
“Kamu tunggu di kursi depan Indomaret situ.”
“Lah, kamu mau kemana?”
“Sebentar, aku tinggal makan bakso dulu.”
“Ehmm, iyadeh!”
Setelah itu ia masuk Indomaret, membeli snack dan minuman sambil menunggu jemputan datang.
“Waduh pacar baru, gak sia-sia merantau ke luar kota sam!”
Sahut penjual bakso sambil menepuk bahuku.
“Ngawut.. tadi itu cuma minta tolong, kebetulan pas di Pandaan dia gak tahu arah jalan ke Malang. Baru pertama kali naik bus.”
“Ealahh... Kirain pacarmu, cantik juga. Dijemput mobil ini kayaknya. Udah dapet nomornya?”
Tanyanya seperti interogasi.
“Wis.. wis.. Aku wis kaliren iki.”
Sahutku sambil mengambil mangkok di gerobak.
Kebetulan si penjual bakso di depan Indomaret Arjosari ini adalah temanku dulu waktu masih SD. Jadi kami sudah saling kenal. Apalagi dulu sebelum merantau ke luar kota, aku juga sempat pernah jadi tukang parkir di kawasan sekitar Indomaret Terminal Arjosari. Nggak heran jika kenal banyak teman di sini.
Pukul 18:45 WIB
Sepertinya rasa bakso Malang nggak ada duanya. Sampai-sampai aku membuat pernyataan: “Segaenak-gaenaknya bakso di Malang, adalah seenak-enaknya bakso di luar kota”. Terdengar berlebihan tapi nyatanya seperti itu.
Sembari memakan bakso, lantas aku menoleh ke arahnya di depan kursi Indomaret. Terlihat ia mencuri pandanganku; dan seakan ia cepat memalingkan wajahnya. Melihat-lihat jam tangan; menunggu jemputan yang tak kunjung datang.
Setelah selesai makan, obrolanku dengan penjual bakso yang juga teman lama tidak terasa, hingga akhirnya adzan Isya’ telah menggema. Sesekali aku memandang, ia malah memalingkan. Wajahnya anggun, berbaur debu keringat panas di perjalanan.
Selang beberapa lama, ada seorang perempuan berjilbab hitam yang datang ke arahnya. Dengan motor Scoopy dan helm Bogo seperti kebanyakan tren perempuan sekarang.
“Loh.. Maaf ya, pasti udah lama nungguin”.
“Enggak kok, gak papa”.
“Kamu kok tahu Indomaret? Katanya tadi gak tahu. Jadinya aku nungguin di pintu masuk bus, eh kamu telepon udah di Indomaret.”
“Iya.. tadi aku nanya”. (Sembari menoleh ke arahku)
“Yaudah, ayo naik.”
Terdengar lirih percakapan dua orang yang aku lihat di antara bilah kaca gerobak bakso. Dan ketika ia menoleh ke arahku, aku memalingkan dan berpura-pura memainkan smartphone yang ada di dalam genggamanku.
“Mas!”. Jelasnya datang ke arahku.
“Loh, kamu”. Balasku.
“Terima kasih mas, aku duluan ya”.
“Iya mbak, hati-hati di jalan ya.”
Suasana hening seketika, ketika aku memandang kursi depan Indomaret yang sudah tak lagi bernyawa; sudah tak ada lagi wajahmu di sana. Tinggal hanya ada wajah penjual bakso yang membuatku jengkel ketika ia tahu bahwa aku tak berani meminta nomormu. Huh..
Aku tak terlalu percaya diri, ketika aku yang ingin membantumu, lalu dengan mudahnya aku meminta nomormu. Tujuanku sederhana, ingin berbeda dari kebanyakan laki-laki lain; yang seringkali modus saat ketika perempuan ingin meminta bantuan. Aku ingin menjadi mentari yang menuntunmu melangkah. Meski terkadang terik mentari sering kau eluhkan; meski terkadang terik matahari juga kau rindukan.
Biarlah engkau terpajang dalam baris kenang, meskipun gengsi ini terlalu susah diterjang. Kau dan Aku adalah seseorang yang pernah bertemu di Indomaret Pandaan, Kau dan Aku pula adalah seseorang yang pernah berpisah di Indomaret Terminal Malang.
Untukmu…
Yang tersandar di atas kursi plastik; Rambut berikat lurus semampai.
Berbaju kuning, berwajah manis kecoklatan; terpapar sinar matahari sore.
Kau terlihat nampak khawatir, Tak akan sampai tiba ke kota Malang;
Karena bus yang ditunggu tak kunjung datang.
Kau dan aku nampak ketahuan saling curi pandang; meski saat aku menoleh ke arahmu,
kau bergegas memalingkan wajahmu.
By: Ardita Rizki F
Komentar
Posting Komentar