Langsung ke konten utama

belajar dari pengamen

Substansi yang Kutemukan dari Dua Pengamen

Patah hati itu wajar, yang nggak wajar itu kalau ngungkapinnya dengan cara-cara yang destruktif. Menyakiti diri sendiri, menyalahkan dunia, apalagi mengganggu orang lain, itu bukan solusi. Justru patah hati seharusnya jadi titik balik buat ngerombak diri, bukan ngerusak.

Dendam sama masa lalu? Boleh. Tapi kalau dendammu itu cuma buat nyeret-nyeret luka lama tanpa arah, ya percuma. Dendam yang baik itu adalah yang mendorong kita jadi versi terbaik dari diri kita. Biar sakitnya jadi bahan bakar, bukan bara yang dibakar terus menerus.

Sore itu, selepas kerja, aku buru-buru ke Terminal Purabaya. Di dalam bus Sumber Selamat, dua pengamen tampil sederhana tapi nyentuh. Musiknya biasa aja, tapi yang berkesan justru obrolan mereka setelahnya—di tengah senja, di bangku belakang, sambil duduk di atas jimbe dan menggenggam ukulele lusuh.

"Waduh, Kang, dino iki sepi banget yo? Ngamen rong bis wae, arep maghrib mulih, rasane durung cukup nggo ngekeki anak bojoku," keluh si penabuh jimbe, gelisah. Keringat masih meleleh di pelipisnya.

Temannya yang bawa ukulele jawab tenang, "Urip iku kudune diimbangi, Kang. Gak kurang dunyone, yo gak kurang akherate."

Aku terdiam. Masih menyimak sambil pura-pura main HP. Si penabuh jimbe melanjutkan, "Lah iyo, Kang. Mosok urip ning dunyo mung golek dunyo. Sak akehe golek duwit, yo tetep kurang."

Temannya menimpali lagi, "Iyo, koyo winginane kancamu kuwi. Ngeyel nukokne sepeda anake, durung lunas, ndilalah ilang. Saiki malah ra kebagian jatah bus."

Kedua pengamen itu saling menatap sejenak, lalu si jimbe nyeletuk dengan nada pasrah tapi masih ada sisa semangat, "Iyowis, Kang. Jenenge urip kudu sregep-sregep disyukuri sak piro olehe. Bar iki mudun Medaeng wae, ngopi ning nggon Mbok Rondo, ngenteni maghrib, yo nggih, Kang?"

“Urip kuwi ora kudu menang-menangan, cukup ojo nganti kelangan arah lan kelangan sopo awakmu sak tenane.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal jodoh

Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...