Langsung ke konten utama

Berjalan dimasa lalu

Waktu begitu cepat berlalu. Tapi aku, ya aku, masih saja berkutat—berputar-putar di pusaran masa lalu. Hari-hari yang datang dan pergi terasa seperti pengulangan, tak ada yang benar-benar berubah. Tahun demi tahun, aku tambah tua, tapi rasanya... belum juga bisa berbuat apa-apa.

Bagiku, nggak salah kalau manusia punya galaunya masing-masing. Toh, kadang galau itu jadi cambuk, jadi pecut buat tetap berkarya. Mungkin itu juga sebabnya aku lebih nyaman disebut karyawan daripada buruh. Entah kenapa, lebih terdengar punya harapan.

Maaf ya, Pak, Buk. Anakmu ini, yang tambah tua tapi belum juga bisa bikin kalian bangga. Aku lebih memilih pura-pura lupa di hari ini. Soalnya, buat apa juga ucapan selamat di media sosial kalau nggak bisa salaman langsung, saling mendoakan, dan saling peluk dalam diam?

Maaf juga untukmu. Aku tahu kau sudah dewasa, lebih dulu matang dibanding aku yang masih kekanak-kanakan. Kau yang butuh kepastian, sementara aku masih sibuk mengejar masa depan yang belum tentu juga mau menyambutku.

Tapi tetap, berbahagialah. Meski akhirnya bukan denganku.
Kalau nanti bahagiamu nggak sesuai ekspektasi, dan air matamu tumpah, nangislah. Karena sebagian air mata itu mungkin—ya, mungkin—terbuat dari aku. Dari kita. Dari segala yang dulu pernah kita yakini sebagai takdir.

Sayang, di atas bibirmu yang tipis itu, ada kismis yang bikin kamu makin manis. Dan entah kenapa aku masih ingat itu. Dulu orang-orang bilang kamu jutek, cuek. Tapi bagiku, kamu malah kayak bebek: cerewet, rame sendiri, tapi ngangenin. Imut, mungil, dan nggak bisa diam. Tapi, pas marah, ampun deh. Wajah mungilmu langsung berubah kayak induk ayam yang anaknya diambil. Ngeri. Bahkan jenderal pun mungkin mikir dua kali buat ngusikmu.

Yah... tapi itu dulu. Sekarang, kamu udah nggak mau lagi denganku. Kabarnya, kamu tunangan bulan ini. Yaps, tepat di hari ulang tahunku. Ironisnya manis.

Tapi aku nggak pernah nyesel pernah mengasihimu, meski akhirnya semu. Dari patah hatimu, aku belajar. Belajar menerima kesalahan. Belajar cara menghargai wanita, seperti aku menghargai ibuku. Mungkin kamu bukan jodohku, tapi kamu tetap guruku—dalam cara yang paling menyakitkan tapi bermakna.

Terima kasih ya, sayang. Eh, maksudku... mantan. Hehehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...