Waktu begitu cepat berlalu. Tapi aku, ya aku, masih saja berkutat—berputar-putar di pusaran masa lalu. Hari-hari yang datang dan pergi terasa seperti pengulangan, tak ada yang benar-benar berubah. Tahun demi tahun, aku tambah tua, tapi rasanya... belum juga bisa berbuat apa-apa.
Bagiku, nggak salah kalau manusia punya galaunya masing-masing. Toh, kadang galau itu jadi cambuk, jadi pecut buat tetap berkarya. Mungkin itu juga sebabnya aku lebih nyaman disebut karyawan daripada buruh. Entah kenapa, lebih terdengar punya harapan.
Maaf ya, Pak, Buk. Anakmu ini, yang tambah tua tapi belum juga bisa bikin kalian bangga. Aku lebih memilih pura-pura lupa di hari ini. Soalnya, buat apa juga ucapan selamat di media sosial kalau nggak bisa salaman langsung, saling mendoakan, dan saling peluk dalam diam?
Maaf juga untukmu. Aku tahu kau sudah dewasa, lebih dulu matang dibanding aku yang masih kekanak-kanakan. Kau yang butuh kepastian, sementara aku masih sibuk mengejar masa depan yang belum tentu juga mau menyambutku.
Tapi tetap, berbahagialah. Meski akhirnya bukan denganku.
Kalau nanti bahagiamu nggak sesuai ekspektasi, dan air matamu tumpah, nangislah. Karena sebagian air mata itu mungkin—ya, mungkin—terbuat dari aku. Dari kita. Dari segala yang dulu pernah kita yakini sebagai takdir.
Sayang, di atas bibirmu yang tipis itu, ada kismis yang bikin kamu makin manis. Dan entah kenapa aku masih ingat itu. Dulu orang-orang bilang kamu jutek, cuek. Tapi bagiku, kamu malah kayak bebek: cerewet, rame sendiri, tapi ngangenin. Imut, mungil, dan nggak bisa diam. Tapi, pas marah, ampun deh. Wajah mungilmu langsung berubah kayak induk ayam yang anaknya diambil. Ngeri. Bahkan jenderal pun mungkin mikir dua kali buat ngusikmu.
Yah... tapi itu dulu. Sekarang, kamu udah nggak mau lagi denganku. Kabarnya, kamu tunangan bulan ini. Yaps, tepat di hari ulang tahunku. Ironisnya manis.
Tapi aku nggak pernah nyesel pernah mengasihimu, meski akhirnya semu. Dari patah hatimu, aku belajar. Belajar menerima kesalahan. Belajar cara menghargai wanita, seperti aku menghargai ibuku. Mungkin kamu bukan jodohku, tapi kamu tetap guruku—dalam cara yang paling menyakitkan tapi bermakna.
Terima kasih ya, sayang. Eh, maksudku... mantan. Hehehe.
Komentar
Posting Komentar