Kasihan orang itu, menganggap gunung meletus sebagai bencana dari Tuhan.
Gunung pun hanya geleng-geleng kepala, berkata, “Kenapa manusia ini? Padahal aku hanya mengikuti sunah dari Yang Maha Kuasa. Memang begini caraku beribadah, cara aku bertasbih kepada-Nya, demi menjaga keseimbangan alam semesta.”
Orang itu pun seketika panik. Ia mengungsi, mengais barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan. Tapi waktu terasa begitu singkat. Dengan penuh penyesalan, ia terpaksa ikut naik ke truk tim SAR.
Dalam perjalanan, ia teringat dosa-dosanya selama ini dan kemudian bertobat pada Tuhan.
Sebagai penggembala dan petani, ia tertegun saat melihat banyak ternaknya mati, dan ladang yang dulu akan ia panen kini lenyap ditelan awan panas.
Setahun kemudian, setelah situasi mulai kondusif, ia kembali ke rumahnya di lereng Gunung Kelud. Ia bersyukur, ternyata apa yang ia anggap bencana justru membawa hikmah.
Tanaman yang dulu rusak kini berubah menjadi tanah yang makin subur. Hasil panen pun jauh lebih melimpah dibanding tahun sebelumnya.
Dan ketika…
Akal telah mati, raga sudah kembali ke bumi, namun rasa akan tetap kekal abadi. Orang yang bertakwa akan menemukan bahagia, tawa, dan cinta di surga. Sementara yang lalai akan menanggung kecewa, sesal, takut, dan amarah di nerakanya sendiri.
Siksa kubur akan mencuci rasa dengki dan iri yang masih mengotori hati. Disikat, diperas, lalu dikeringkan di penyangga keadilan Yaumul Mizan. Dibaluri dengan semerbak wangi parfum bidadari, hingga tubuh itu suci dan layak masuk surga melalui pintu yang ia pilih, berdasarkan amalnya saat di dunia.
Dan bila bumi menolak, ia harus menebus kesalahannya sendiri. Wujud-wujudnya berubah sesuai perilaku saat hidup di dunia, mengganggu akal manusia agar menjadi bagian dari siksanya.
Komentar
Posting Komentar