Langsung ke konten utama

Berprasangka Baik Itu Perlu

Kasihan orang itu, menganggap gunung meletus sebagai bencana dari Tuhan.

Gunung pun hanya geleng-geleng kepala, berkata, “Kenapa manusia ini? Padahal aku hanya mengikuti sunah dari Yang Maha Kuasa. Memang begini caraku beribadah, cara aku bertasbih kepada-Nya, demi menjaga keseimbangan alam semesta.”

Orang itu pun seketika panik. Ia mengungsi, mengais barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan. Tapi waktu terasa begitu singkat. Dengan penuh penyesalan, ia terpaksa ikut naik ke truk tim SAR.

Dalam perjalanan, ia teringat dosa-dosanya selama ini dan kemudian bertobat pada Tuhan.

Sebagai penggembala dan petani, ia tertegun saat melihat banyak ternaknya mati, dan ladang yang dulu akan ia panen kini lenyap ditelan awan panas.

Setahun kemudian, setelah situasi mulai kondusif, ia kembali ke rumahnya di lereng Gunung Kelud. Ia bersyukur, ternyata apa yang ia anggap bencana justru membawa hikmah.

Tanaman yang dulu rusak kini berubah menjadi tanah yang makin subur. Hasil panen pun jauh lebih melimpah dibanding tahun sebelumnya.

Dan ketika…

Akal telah mati, raga sudah kembali ke bumi, namun rasa akan tetap kekal abadi. Orang yang bertakwa akan menemukan bahagia, tawa, dan cinta di surga. Sementara yang lalai akan menanggung kecewa, sesal, takut, dan amarah di nerakanya sendiri.

Siksa kubur akan mencuci rasa dengki dan iri yang masih mengotori hati. Disikat, diperas, lalu dikeringkan di penyangga keadilan Yaumul Mizan. Dibaluri dengan semerbak wangi parfum bidadari, hingga tubuh itu suci dan layak masuk surga melalui pintu yang ia pilih, berdasarkan amalnya saat di dunia.

Dan bila bumi menolak, ia harus menebus kesalahannya sendiri. Wujud-wujudnya berubah sesuai perilaku saat hidup di dunia, mengganggu akal manusia agar menjadi bagian dari siksanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...