Aku ingin tahu, bagaimana caranya untuk mengetahui dari mana asal-usul silsilah keturunanku.
Dan yang paling ingin aku ketahui adalah, untuk apa sebenarnya aku dilahirkan?
Apakah untuk merusak bumi? Merampas uang rakyat? Atau untuk membantu keluarga yang tak kunjung damai, yang tiap hari terus cekcok dan bertengkar tanpa henti?
Aku lahir dari sepasang orang tua yang nasibnya serupa dengan nama kota tempat kelahiranku: "Malang". Ceritanya, ayah dan ibu pertama kali bertemu saat ayah menjadi operator kayuh becak, dan ibu seringkali menjadi pelanggannya saat sore hari selepas bekerja. Singkat cerita, akhirnya ayah dan ibu saling suka hingga memutuskan menikah di usia 20-an. Meski ayah tidak memiliki pekerjaan tetap, untungnya ibu sudah menjadi pegawai tetap.
Ayah berasal dari desa perbatasan dan mengadu nasib di tanah perantauan, tepatnya di terminal Malang.
Tanah penghasil kopi di perbatasan Kota Lumajang adalah tempat kelahiran ayahku. Ayah berasal dari keluarga petani, meski banyak sanak saudaranya yang menjadi pedagang. Namun ayah berbeda dari kelima saudaranya; sejak kecil ayah dibesarkan oleh orang tua angkat sehingga tidak memiliki jiwa pedagang seperti saudara-saudaranya. Tuntutan keluarga di desa sangat berat, sehingga saat masih muda ayah harus memutar otak untuk merantau ke kota.
Sementara ibu berasal dari keluarga berkecukupan, namun sering sakit-sakitan. Tak heran, meski sekeras apapun bekerja, uang itu entah ke mana larinya.
Ibu adalah satu-satunya anak yang masih hidup. Kakak perempuan ibu meninggal saat remaja, sementara adik kembar meninggal dunia saat masih bayi yang belum berdosa.
Ibu tumbuh tanpa kasih sayang nenek, karena nenek meninggal dunia saat ibu berusia taman kanak-kanak. Hal itu membuat kakek mencari pengganti nenek sebagai nenek tiri.
Ayah berwujud seperti Batara Kala, sang dewa waktu. Ia tidak suka melihat orang diam; pasti ada saja yang harus disuruh dan dikerjakan—mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, dan lain-lain. Walaupun aku anak laki-laki, ayah menerapkan karakter keras dalam mendidikku. Hal itu pula yang membuatku memiliki watak penyabar dan bertindak seperti bumi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi aku, pendidikan militer yang diterapkan ayah sejak dulu adalah ilmu tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap narimo (pasrah).
Pernah suatu ketika ayah marah, dan aku menjawab balik. Aku menjawab sampai sapu menghantam betis kedua kakiku. "Sakit hati, update status di media sosial adalah pelampiasan. Kenapa ayah seperti ini? Kenapa aku dilahirkan di keluarga ini?"
Pertanyaan itu baru terjawab setelah aku berumur 20 tahun. Sebelumnya aku mengira bahwa aku hanya merasa "wegah" (enggan). Namun seiring berjalannya waktu, Sang Maha Kuasa memberi petunjuk: aku harus hidup tanpa kedua orang tua ketika diterima bekerja di sebuah perusahaan kertas swasta. Dari situ aku mendapatkan penghayatan luar biasa: bagaimana ayah dengan pekerjaan tak menentu bisa membangun rumah di atas tanah sendiri? Bagaimana ibu dengan gaji UMR Malang bisa menyekolahkan aku sampai lulus SMK? Sementara aku, dengan UMR Gresik, masih sering mengeluh merasa kurang untuk berbagai biaya, padahal statusku masih lajang.
Sementara ibu adalah pertiwi dari lakuning bumi yang beliau ajarkan bertahun-tahun kepadaku. Ayah yang keras, dan ibu yang ikhlas. Ibu ibarat lautan yang mampu menampung sampah dari berbagai sungai, juga seperti bumi yang selalu mengayomi berbagai macam manusia tanpa pandang bulu.
Dahulu kala, bumi menangis ketika Adam diciptakan dari sebagian tanah. Bumi tak sanggup menanggung beban manusia jika akhirnya saling bertumpah darah. Bumi malu pada Sang Penguasa Semesta. Malaikat Jibril, Mikail, Israfil tak mampu mengambil sebagian tanah bumi, sehingga diutuslah Malaikat Izroil yang dengan ketegasan mampu mengambil sebagian tanah tersebut.
Ibu lahir dengan penyakit jantung dan paru-paru yang membuatnya sering terkejut hingga sesak napas di tengah malam.
Serangkaian pengobatan telah ia jalani. Rumah sakit pun menjadi seperti restoran cepat saji baginya.
Ketika aku membantah, air mata ini selalu menyesal. Menetes sendiri ketika aku sadar telah menyakiti. Namun apa yang ibu balas? Ibu malah membalas dengan pelukan dan kasih sayang.
Dulu waktu di SMK, aku sering bolos pelajaran. Pelajaran teknik tanpa praktek sering aku sisihkan. Hampir 30 hari aku tidak datang tanpa alasan selama satu semester. Hingga akhirnya aku dipanggil guru konseling yang mengundang orang tuaku menemui wali kelasku. Kejadian itu membuat air mata ibu tumpah, seperti awan sore yang mendung saat mendengar anaknya sering bolos tanpa alasan. "Padahal tiap pagi berangkat berseragam, pamit sambil mengecup tangan, tapi kok banyak ketidakhadiran?" mungkin begitu batin ibu.
"Buk, do’amu manjing (terkabul)." Begitu kata hatiku.
Komentar
Posting Komentar