Langsung ke konten utama

Buruh yang peragu

 Dahulu, tak seorang pun mengenal apa itu PT Dayasa. Bahkan, warga sekitar sempat ragu: benarkah pabrik yang sejak lima tahun terakhir pailit—Surya Kertas—akan berdiri kembali?

Wajah pemilik kos kini kian berseri. Kamar-kamar kosongnya mulai banyak diminati. Penjual nasi yang sebelumnya sepi, hari ini bersyukur karena dagangannya kembali lancar.

Obrolan pagi itu begitu ramai. Para ibu, tua maupun muda, membahas kabar bahwa PT Dayasa akan bangkit dan maju.

Kami masih ingat betul: 50 orang pertama yang direkrut berasal dari SMK 5 Surabaya dan SMK 1 Singosari Malang. Kami mengenakan seragam Dayasa dengan penuh harap, meski tak sedikit keraguan menghantui. Saat pertama kali kami masuk, tepat satu tahun yang lalu, pabrik tampak angker. Rumput liar menjalar di setiap sudut, membuat kami bertanya-tanya: ini kerja atau uji nyali?

Di depan gerbang, para demonstran berdiri. Mereka menuntut hak pesangon yang belum dibayarkan. Poster-poster protes terpampang di mana-mana, bahkan ada boneka-boneka menyeramkan sebagai simbol kemarahan.

Kondisi itu membuat kami diungsikan ke mess, sembari menunggu situasi aman dan kondusif. Selama lima hari berturut-turut, tiap pagi kami tak bisa masuk ke pabrik. Di hari-hari pengungsian itu, kami mendapat penjelasan dari Pak ... (HRD saat itu).

Beliau menceritakan latar belakang aksi demonstran dan alasan pailitnya pabrik ini. Dengan sabar beliau membesarkan hati kami. “Bersyukurlah karena kalian sudah bekerja. Di luar sana, banyak yang bahkan berharap surat lamarannya dibaca. Tolong pikirkan baik-baik jika kalian ingin mengundurkan diri,” ucap beliau tegas namun lembut.

Agar tidak jenuh selama di mess, kami dibagi ke dalam kelompok berisi lima orang. Setiap anggota kelompok wajib mengenal nama, alamat, asal sekolah, serta tanggal lahir anggota lainnya. Kemudian, satu orang dari masing-masing kelompok harus berdiri dan memperkenalkan seluruh anggotanya kepada kelompok lain. Di situ, kami diajarkan pentingnya bersosial, berorganisasi, dan berani tampil di depan umum. Sebuah pelatihan mental yang membekas hingga kini.

Sabtu, 3 November, situasi dinyatakan kondusif. Untuk pertama kalinya kami dipersilakan masuk ke dalam pabrik. Kami diajak berkeliling oleh Pak Suken (kini di bagian Timbangan) yang menjelaskan berbagai bagian divisi serta jumlah mesin yang dimiliki oleh pabrik sebelumnya.

Kami pun mulai dibagi sesuai jurusan masing-masing. Saat itu, orang Taiwan sudah menunggu. Tak lama, Pak Slamet dari WWT menegur kami dari arah berlawanan dan menyuruh kami menuju kantor atas. Di sana, kami dipanggil oleh Pak Alex.

Pak Alex berbicara pada kami dengan penuh semangat. Ia memberi harapan kepada 50 karyawan baru yang belum berpengalaman, agar kami belajar sebanyak-banyaknya. Ia juga memperkenalkan siapa saja perwakilan dari Taiwan yang akan bertugas di pabrik ini. Dari 50 orang itu, akhirnya terpilih 10 orang yang ditempatkan di bagian PM1.

---
Cerita ini menggambarkan perjalanan awal berdirinya kembali PT Dayasa Aria Prima setelah bertahun-tahun terbengkalai. Dari kondisi pabrik yang angker dan penuh ketidakpastian, hingga semangat karyawan baru yang perlahan menumbuhkan harapan. Situasi awal yang tidak ideal—aksi demonstran, rasa takut, dan keterbatasan fasilitas—tidak menyurutkan langkah para karyawan muda untuk bertahan dan belajar.

Dari pengalaman ini, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil:
  1. Kesabaran di Masa Sulit
    Tidak semua awal akan berjalan mulus. Kadang kita harus melalui masa sulit dulu untuk melihat masa depan yang cerah.
  2. Nilai dari Kesempatan Pertama
    Menjadi bagian dari awal kebangkitan perusahaan adalah pengalaman yang berharga. Walau tanpa pengalaman, dengan tekad dan kemauan belajar, siapa pun bisa berkembang.
  3. Pentingnya Solidaritas dan Sosialisasi
    Aktivitas pengenalan dan kerja sama di mess membentuk ikatan dan mental yang kuat. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan tim tidak hanya ditentukan oleh skill, tapi juga oleh komunikasi dan kebersamaan.
  4. Optimisme dan Kepemimpinan yang Menginspirasi
    Peran pimpinan yang mampu memberi arahan, semangat, dan visi sangat penting untuk membentuk mental karyawan baru. Kata-kata yang menenangkan bisa menjadi pemantik semangat besar di tengah tekanan.
  5. Jangan Remehkan Awal yang Sederhana
    Dari obrolan ibu-ibu di pagi hari, pemilik kos yang kembali ceria, hingga pedagang yang laris—kebangkitan satu pabrik bisa berdampak luas pada kehidupan sosial dan ekonomi sekitar.

“Hari ini kami tahu, langkah kecil penuh keraguan yang kami ambil satu tahun lalu... ternyata adalah awal dari sejarah baru.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal jodoh

Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...