Menyulam Sukses dan Makna Hidup
Memperjuangkan kemenangan sendiri,
kadang justru memperlihatkan kelemahan diri—
karena kadang kita terlalu menuntut,
hingga lupa arti dari perjuangan itu sendiri.
Sukses bukan soal nominal yang banyak,
atau apa yang orang lain punya.
Sukses itu ketika kemampuan kita
melebihi batas keinginan,
bukan sebaliknya.
Aku pernah kehilangan,
tapi Tuhan selalu menggantikan.
Digantikan dengan yang lebih menawan,
dan bahkan ditambah dengan pekerjaan baru—
yang kadang bikin aku makin sadar,
bahwa hidup itu bukan soal apa yang hilang,
tapi apa yang bisa kita jalani dan syukuri.
Belajar mengingat, berjalan mendekat,
meski aku tahu aku sering jual mahal pada Tuhan.
Maafkan aku, ya Tuhan,
yang kadang lebih sibuk dengan egoku sendiri.
Aku ini seperti pohon sengon,
bentukku mungkin bengkok,
makanya aku terus merapal doa ihdinas sirotol mustakhim,
agar aku tetap lurus di jalan yang benar.
Meski murah dan ringkih,
aku tetap berguna untuk masyarakat.
Sengon memang tak sekuat jati,
tapi Tuhan menciptakan makhluk beraneka rupa—
tak harus seragam,
karena dari keberagaman itulah makna hidup tumbuh.
Amarah, aluamah, supiah, muthmainah—
semua jadi bagian perjalanan,
yang mengajarkan aku arti sabar, syukur, dan ikhlas.
Seperti kata bijak,
“Tell me, I may forget. Teach me, I may remember. And involve me, I may learn.”
Belajar itu bukan hanya dengar dan tahu,
tapi terlibat dan merasakan.
Dan inilah aku,
seperti pohon sengon,
mungkin tidak sempurna,
tapi terus berusaha jadi berguna—
bagi diri, keluarga, dan sekitar.
Komentar
Posting Komentar