Dalam hidup ini, ketika kita berbuat baik dengan mengharap pamrih, balasan akan datang dari manusia yang kita tolong—entah berupa ucapan terima kasih atau bantuan lain sesuai kemampuannya. Namun, saat kita memilih untuk ikhlas, tanpa mengharap balasan apa pun, seringkali justru Tuhan yang membalas kebaikan itu. Tak selalu langsung, kadang melalui orang lain, bahkan bisa jadi balasannya datang untuk keluargamu, untuk anak-anakmu.
Namun begitu, kebaikan bukan selalu dibalas dengan kemudahan. Kadang justru ujian datang setelah kita melakukan hal baik. Mengapa demikian? Sebab pemahaman baru, kedewasaan batin, tidak bisa diturunkan ketika manusia sedang tenggelam dalam euforia bahagia. Ketika bahagia, manusia kerap lupa mengenali dirinya. Padahal, mengenali diri adalah jalan untuk mengenali Tuhan.
Dalam pekerjaan pun begitu. Bekerja bukan hanya sekadar rutinitas yang dijalani hingga akhir hayat. Setiap tetes keringat bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang lurus. Jika kau mencari Tuhan, dunia akan mengikuti. Tapi jika yang kau cari hanya uang, maka utang dan beban hidup justru yang akan mengejarmu.
Namun hidup tak melulu soal pribadi. Kita hidup bersama orang-orang terdekat: keluarga. Seringkali, dalam keluarga terjadi perselisihan bukan karena kebencian, tapi karena miskomunikasi dan saling merasa benar. Padahal, kebenaran belum tentu kepeneran. Bener durung mesti pener. Yang penting bukan pembenaran, tapi bagaimana kita saling memahami dan mencari solusi bersama.
Untuk orang tua kami—Pak, Buk—kami tahu kalian pernah muda seperti kami sekarang. Maka jangan hanya menuntut dan menyalahkan. Bimbing kami, bukan paksa kami. Ajari kami dengan sabar, bukan marahi kami dengan amarah. Karena keluarga adalah tempat untuk tumbuh bersama, bukan untuk saling menjatuhkan.
Kenali dirimu, maka kau akan mengenali Tuhanmu.
- Ardita Rf
Komentar
Posting Komentar