Langsung ke konten utama

Kenali Dirimu, Maka Kau akan Kenal Tuhanmu

Dalam hidup ini, ketika kita berbuat baik dengan mengharap pamrih, balasan akan datang dari manusia yang kita tolong—entah berupa ucapan terima kasih atau bantuan lain sesuai kemampuannya. Namun, saat kita memilih untuk ikhlas, tanpa mengharap balasan apa pun, seringkali justru Tuhan yang membalas kebaikan itu. Tak selalu langsung, kadang melalui orang lain, bahkan bisa jadi balasannya datang untuk keluargamu, untuk anak-anakmu.

Namun begitu, kebaikan bukan selalu dibalas dengan kemudahan. Kadang justru ujian datang setelah kita melakukan hal baik. Mengapa demikian? Sebab pemahaman baru, kedewasaan batin, tidak bisa diturunkan ketika manusia sedang tenggelam dalam euforia bahagia. Ketika bahagia, manusia kerap lupa mengenali dirinya. Padahal, mengenali diri adalah jalan untuk mengenali Tuhan.

Dalam pekerjaan pun begitu. Bekerja bukan hanya sekadar rutinitas yang dijalani hingga akhir hayat. Setiap tetes keringat bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang lurus. Jika kau mencari Tuhan, dunia akan mengikuti. Tapi jika yang kau cari hanya uang, maka utang dan beban hidup justru yang akan mengejarmu.

Namun hidup tak melulu soal pribadi. Kita hidup bersama orang-orang terdekat: keluarga. Seringkali, dalam keluarga terjadi perselisihan bukan karena kebencian, tapi karena miskomunikasi dan saling merasa benar. Padahal, kebenaran belum tentu kepeneran. Bener durung mesti pener. Yang penting bukan pembenaran, tapi bagaimana kita saling memahami dan mencari solusi bersama.

Untuk orang tua kami—Pak, Buk—kami tahu kalian pernah muda seperti kami sekarang. Maka jangan hanya menuntut dan menyalahkan. Bimbing kami, bukan paksa kami. Ajari kami dengan sabar, bukan marahi kami dengan amarah. Karena keluarga adalah tempat untuk tumbuh bersama, bukan untuk saling menjatuhkan.

Kenali dirimu, maka kau akan mengenali Tuhanmu.

- Ardita Rf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...