Aku kira kamu jodohku, ternyata kamu cuma dititipkan Tuhan untuk mendewasakanku.
Dari karya banyak kisah yang kuangkat tentangmu, banyak hal juga yang aku pelajari dari perpisahan dulu.
Mencintai sewajarnya: tidak berlebihan, tidak kekurangan, adalah hal yang cukup.
Tak usah sering bertanya, "Lagi apa?".
Tak perlu tiap waktu bertanya, "Udah makan?".
Juga tak perlu tahu, "Kenapa kok balesnya lama?".
Aku tertawa melihat bodohnya diriku dulu.
Tapi aku mencintaimu penuh, sedangkan kamu hanya mencintaiku separuh.
Akhirnya, buku ini menemukan epilog.
Ctrl+N semenjak hari ini. Ingin dicintai itu hanya akan membuat dirimu menjadi orang lain. Mulai sekarang, kamu harus belajar mencintai pada apapun, termasuk orang yang paling kamu benci sekalipun. Syukur-syukur kamu cinta pada sang pemberi hidup.
Komentar
Posting Komentar