Nak, bangunlah.
Masih banyak cucian! Mana tanggung jawabmu?
Tiap hari hanya tertidur di sofa melihat cermin.
Apa kau sudah gila nak?
Melihat wajah sendiri di cermin dengan
tertawa terbahak-bahak.
Tapi katamu cermin itu ajaib,
bisa melihat dunia dan seisinya.
Tapi aku khawatir denganmu,
sudah lama kau tak menyapa kawanmu sekitar perumahan.
Diajaknya kau malah mengejek,
sepertinya kawanmu tak lagi suka denganmu;
sudah tak nyambung diajaknya bicara.
Aku takut denganmu saat dewasa,
kelak ketika Ibumu sudah tiada.
Siapa lagi yang akan merawatmu?
Anak sebatang kara, tak kenal siapa
dan dimana bapaknya.
Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...
Komentar
Posting Komentar