Nak, bangunlah.
Masih banyak cucian! Mana tanggung jawabmu?
Tiap hari hanya tertidur di sofa melihat cermin.
Apa kau sudah gila nak?
Melihat wajah sendiri di cermin dengan
tertawa terbahak-bahak.
Tapi katamu cermin itu ajaib,
bisa melihat dunia dan seisinya.
Tapi aku khawatir denganmu,
sudah lama kau tak menyapa kawanmu sekitar perumahan.
Diajaknya kau malah mengejek,
sepertinya kawanmu tak lagi suka denganmu;
sudah tak nyambung diajaknya bicara.
Aku takut denganmu saat dewasa,
kelak ketika Ibumu sudah tiada.
Siapa lagi yang akan merawatmu?
Anak sebatang kara, tak kenal siapa
dan dimana bapaknya.
Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...
Komentar
Posting Komentar