Siapa sih yang suka dijajah di negerinya sendiri? Mungkin sebagian orang menganggap para pendatang itu biasa saja, atau jangan-jangan mereka justru mengais rupiah dari celana necis para pendatang.
Genap setahun aku merasakan getir-manisnya hidup di sebuah tempat bernama Semambung, sebuah dusun kecil yang berdiri di antara Sungai Brantas dan deretan perusahaan besar.
Dari obrolan warung kopi, sesekali terdengar keluhan warga asli, para pemuda pribumi yang merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. Setahun terakhir, mereka melihat para perantau datang berbondong-bondong dan menetap. Ketimpangan sosial yang tampak di depan mata menimbulkan pro dan kontra—tentang bagaimana caranya bertahan hidup layak di negeri sendiri.
Setiap malam mereka mengeluh. Ada kekhawatiran, jika suatu hari anak cucu mereka akan tersingkir perlahan oleh perantau-perantau yang terus berdatangan. Bagi sebagian orang, bisnis kamar sewa mungkin terlihat menguntungkan. Tapi bagaimana dengan mereka yang bahkan tak punya apa-apa?
Nasib, bagiku, adalah salah satu dari ratusan jalan untuk hidup layak—bak suksesnya para penjajah. Namun kurangnya pemerataan program pelatihan kerja bagi warga sekitar menjadi problematika besar. Terlebih soal anak muda yang sebenarnya siap kerja, namun tak diberi kesempatan. Sementara di kota-kota kecil dengan UMR rendah, justru sumber daya manusianya dimaksimalkan.
Mungkin suatu hari nanti, ada kesadaran dari para pemangku kebijakan untuk membuat program pelatihan kerja bagi warga asli, daripada sekadar membiarkan mereka nongkrong mencari Wi-Fi di warkop. Jangan puas hanya karena negerimu dikuasai orang asing yang berkeliaran tengah malam, meminum miras, dan tertawa lepas—padahal sejatinya mereka juga sedang memikul penderitaan.
Ubah pola pikirmu. Jangan hanya menekan orang dalam demi bisa masuk kerja. Maksimalkan potensimu dengan inovasi. Dan satu hal: hidup bukan hanya soal uang.
Komentar
Posting Komentar