Dua tahun berlalu, hati perlahan mulai pulih, dan waktu seolah menjawab semuanya. Ternyata, sakit di masa lalu itu adalah rencana Tuhan: bersamamu.
Perlahan hati yang sunyi ini menyadari betapa bodohnya aku menyesali kejadian malam itu. Dengan berat kau mengucapkan bahwa sebenarnya kita sudah tak lagi sejalan. “Kenapa?” — itulah jawaban yang terus kucari selama ini.
Dengan patah hati, aku mulai bangkit membawa rasa sakit. Dengan dendam yang membara, aku tak mau membiarkan jiwaku padam.
Meski jalan kita sudah berbeda arah, meski raga kita tak lagi saling bertemu, berpisah bukan berarti hati ini berhenti saling menyapa dalam doa.
Semoga kau bahagia dengan pasangan barumu yang kini kau umbar di linimasa. Terima kasih telah pernah hadir dan singgah. Aku yakin Tuhan akan memberikan jalan terbaik bagi kita masing-masing.
Selepas kau menikah, aku sempat berharap pada raga Dahlia. Kita pernah saling bertukar cerita tentang masa lalu. Ingatkah kau?
Sesaat kemudian, kau tiba-tiba menggenggam jari kelingkingku dengan jari kelingkingmu. Kau berujar agar kita sama-sama tak meninggalkan satu sama lain. Binar matamu seolah percaya pada masa depan kita. Bangku taman itu menjadi saksi bisu malam itu, kau dan aku.
Namun, di akhir cerita, aku sempat bertanya, “Kenapa kau ingin berpisah denganku?” Tapi kau malah diam membisu.
Komentar
Posting Komentar