Kita adalah sepasang musuh yang saling bersatu, bertemu dalam ketidaksengajaan antara ruang dan waktu. Dalam peliknya dunia yang serba salah hingga titik terendah di kehidupan masing-masing. Meski kita tak pernah akur, setidaknya kita masih diberikan syukur. Meski kita tiap hari saling caci maki, semoga itu dalam rangka saling mencintai. Aku yakin kita adalah sepasang kekasih yang sudah Tuhan persiapkan sebelum kita dilahirkan, awet langgeng meski maut memisahkan.
Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...
Komentar
Posting Komentar