Langsung ke konten utama

Drama Menjelang Akad




Cuaca malam diiringi hujan, mengguyur suasana rumah yang penuh canda dan tawa. Saudara berkumpul, kawan merangkul membesarkan sebuah hati yang sebentar lagi melepas status lajang. Semakin lama obrolan kami mengalir seperti derasnya hujan, membahas masalah negeri, pandemi yang tak tahu kapan berakhir, hingga nostalgia waktu jaman susah dahulu kala.

  Tengah malam ramai bersuar dan satu persatu mulai menjelma keheningan, teman teman mulai tumbang meluruskan punggungnya sendiri sendiri: di kursi, lantai, hingga kamarku mereka singgahi.

Allahu akbar.... Alllahu Akbar... (Adzan Shubuh)

Tubuh ini spontan berdiri kemudian Ku tepuk pundak kawan satu persatu lantas menuju kamar mandi, bersiap bergegas menuju rumah nenek calon istri.

Naas, setelah aku mengambil handuk dan berganti pakaian tiba-tiba kawanku semua menghilang balik pergi ke rumah masing-masing. Ahh sial, niat mau aku suruh anter akad nikah. Memang sengaja semalam sebelumnya kawan-kawan, tetangga tidak ada yang aku beritahu jika esok aku melaksanakan akad nikah karena kakekku dan nenek calon istriku meninggal dalam waktu yang berdekatan. Maka dari itu kami bersepakat untuk tidak mengadakan resepsi dan hanya dihadiri oleh keluarga terdekat.

Ayam berkokok bersahutan, sinar matahari kemerahan di ufuk timur. Aku gelagapan karena bingung siapa yang akan pergi denganku untuk menjadi saksi pada prosesi akad nikah. Sementara akad nikah dimulai pada pukul 06.00 pagi hari di rumah nenek calon istri. Setelah berpikir dan melamun agak lama aku memberanikan diri untuk mengajak Pamanku bernama Heri yang sedang menyiram bonsainya didepan rumah. Jadi aku memanggilnya Lik Heri.

"Lik, iso ngeterno aku ta saiki?". Tanyaku

"Ngeterno ning ndi ndit kok mruput men?". Ujarnya dengan merawat bonsai nya.

"Nganu lik, iki aku maringene ate akad, tulung samean sing dadi saksine iso a?". Tanyaku lagi

"Loh saiki ta rabine? oalah yowis sek wis tak adus salin sik".  Ujarnya dengan wajah yang bingung dan tak menyangka jika sepupunya ini akan nikah.

Setelah menunggu kurang lebih sekitar setengah jam, Pukul 05.15 WIB aku berangkat berdua dengan Lik Heri dengan Motor Astrea ke rumah calon istriku. Setelah tiba disana aku disambut hangat oleh mertua dan keluarga istri. Dipersilahkan duduk untuk menunggu dirias dan ganti pakaian untuk prosesi akad. Disela-sela aku menunggu untuk dirias tiba tiba mertuaku bertanya:

"Le, lah kancane liyane ningndi?" Tanya Bapak mertua.

"Anu pak, mantun niki lare lare nyusul tasik ten dalan tirose". Jawabku asal, sembari chat kawan-kawanku tadi yang tak kunjung datang.

Kemudian aku dipanggil penata rias untuk bersiap dan ganti pakaian. Sialnya peci yang dibawa MUA tidak ada yang pas di kepalaku. Alhasil jadinya malah keliatan kegedean.

---------------------------------------------------------------------

Pak Penghulu dan pak modin tiba pukul 05:45 WIB. 15 menit sebelum jam kick-off berlangsung.

"Monggo manten e siap-siap!" Ucap pak penghulu

"Ojolali le mahar e disiapno sik nggih! Ayo latihan sek saya terima nikahnya". ucap pak penghulu lagi.

Panik mahar bingkai bertuliskan Rp. 460.000,- yang aku beli di shopee 3 hari sebelum hari H belum ada di tempat. Aku memberanikan diri bertanya:

"Pak, ngapunten semerap pigura sing damel mahar niku a? tanyaku pada bapak mertua.

"Waduh le sek yo tak golekine, keri ndek omah ndukur paling". jawab bapak mertua

Sempat tertunda sebentar karena lupa menaruh pigura mahar, akhirnya prosesi akad pun dilanjutkan. Sang calon istri masih disembunyikan didalam kamar sampai semua orang saksi berkata SAH! di dalam ruangan itu.

Antara penasaran dan panik. Penasaran bagaimana wajah istriku di hari yang bahagia ini, panik karena kawan yang hampir 1 jam lebih aku WA tak kunjung datang, padahal prosesi akad sebentar lagi dimulai.

"Wah kalau telat gak ada yang mendokumentasikan prosesi akad". batinku.

Kemudian pak penghulu menyuruhku latihan mengucap akad. "Saya terima nikahnya Vivi Nur Damayanti binti Bapak Misturah dengan maskawin tersebut dibayar Tunai!". Ucapku.

"Tersebute niku nggih disebutno to mas, ayo dibaleni maneh!". Sahut pak penghulu.

---------------------------------------------------------------------

Setelah semua lancar dengan hanya satu tarikan nafas, aku berhasil mengucapkan akad di hari yang bahagia ini. Akhirnya aku telah SAH melepas status lajangku. Istriku kemudian datang dengan make up yang membuatku pangling dengan busana Sunda Sigernya. Istriku berbisik:

"Mas, kok gak krungu suarane samean? aku gak ngerti moro2 wis mari". tanya istriku.

"Anu dek, ikumau paling salon e kurang banter". jawabku asal, karena pas di ulang memang suaraku nggremeng kata orang jawa.

prosesi kemudian kami akhiri dengan tanda tangan buku nikah dan pak penghulu juga menyuruh ku untuk membaca tentang hukum nikah; kewajiban suami istri dalam islam.

---------------------------------------------------------------------

1 Jam setelah prosesi akad kawan ku tadi tiba-tiba telfon. "Tulung share lok no lokasi aku ket mau kesasar nandi iki? aku ngomong jenenge bojomu yo ganok sing ngerti, tak parani ning omahe sing biyen yo ganok sopo-sopo". ucap salah satu kawan.

Maklum karena prosesi akad sebenarnya dilaksanakan di rumah nenek angkat istriku karena menurut adat jawa jika akan menikahkan anak tetapi bebarengan dengan masa duka maka si orang tua dilarang mengadakan acara resepsi agar tidak terjadi malapetaka di kemudian hari. Untungnya nenek istriku mempersilahkan kami mengadakan acara akad nikah dirumahnya.

"Oalah ketmau tibake gak ngerti omahe ta? wis mari iki akad e". jawabku.

Acara dilanjutkan dengan foto-foto keluarga, dan mempersilahkan para tamu yang tak diundang. Tak diundang karena kami tidak menyebar undangan, dan hanya melalui mulut ke mulut sanak saudara maupun tetangga para tamu yang hadir. Tak lupa kawan kawanku yang kesasar tadi akhirnya tiba. Lima orang laki-laki berbaris dengan gagahnya berjalan di lorong gang menenteng satu set bedcover. Unik, gak kepikiran juga idenya. Mereka ternyata dari tadi cukup lama menunggu balesanku meminta sharelok. Kami heran, tamu yang berdatangan ternyata cukup banyak hingga menjelang larut malam. terakhir kami menyambut pukul 21.00 WIB. Uniknya lagi souvernir dan snack habis tak tersisa. Alam sepertinya juga memberi restu dengan tidak menurunkan airnya jatuh ke bumi pada hari spesial kami.

Hari menjelang larut malam. Sinar rembulan bercahaya diantara diantara ranting-ranting pohon.
Handphoneku tiba-tiba berdering. Kawanku bernama Alif dan Edo hendak datang ke rumah nenek istri; katanya akan menemaniku begadang di rumah mertua. Semakin larut malam obrolan kami garing. Aku menawarkan mereka untuk bermain PES (Game Bola) di laptoku dan mereka mengiyakanya. Alhasil aku menyiapkan laptop agar mereka dapat hiburan di suasana yang asing.

Rupanya mereka berdua keliatan asik dan serius memainkan game tersebut. Pelan pelan aku mundur kebelakang dan pergi ke kamar pengantin meninggalkan mereka berdua. Menyusul istriku yang sudah tidur karena capek seharian meladeni banyaknya tamu yang hadir diluar ekspektasi.

----------------------------------------------------------------------

Pagi hari yang lelah bercampur bahagia karena banyak saudara hadir, mungkin jika tidak ada acara menikahpun mereka jarang berkumpul. Entah bagaimana kabar kedua kawanku semalam yang tiba tiba aku tinggalkan bermain game berdua di ruang tamu rumah nenek istriku.

Pagi yang cerah ternyata tidak benar benar cerah, masih banyak yang harus dibereskan dengan istriku. Kursi ruang tamu didepan yang belum dimasukkan. Karpet yang belum digulung, lantai yang belum sempat di sapu maupun piring dan gelas kotor yang belum dicuci.

Akhirnya kami membagi tugas membersihkan rumah nenek seperti sedia kala. Setelah lantai tersapu bersih serta kursi ruang tamu dimasukkan. Aku duduk di ruang tamu, apalagi istriku sudah menyiapkan segelas kopi dan satu bungkus rokok di meja. Dengan santai aku mengobrol, cerita dengan nenek sembari menghisap rokok dan menyeruput kopi. Sementara istriku masih sibuk mencuci piring di dapur. Lalu kemudian istriku tiba-tiba menghampiriku dan berbisik:

"Mas, Aku lali emak, om, tante, kabeh saiki poso rejeb!". ujar istriku

Kemudian aku terdiam sejenak. Melanjutkan obrolan dengan nenek sampai selesai, melihat kopi yang tak berani aku sentuh serta bungkus rokok yang hanya sebagai penghias meja ruang tamu

----------------------------------------------------------------------

3 Hari Kemudian kami bersiap-siap untuk pindah ke rumah orangtuaku. Dengan status masih pengantin baru dan dengan pedenya kami berdua pulang disambut tetangga. Hahaha, lucu batinku.

"Loh rek manten anyar teko, koiso rabi gak undang undang iku lo yok opo sih". Ucap para tetangga

Padahal mereka yang notabene adalah tetangga sebelah rumah tidak kami beritahu sebelumnya.

Kado yang indah di hari ulang tahunku yang ke 22.
Tepatnya pada hari Minggu, Tanggal 28-02-2021.
Angka 2 yang melambangkan bahwa setiap manusia ataupun makhluk di muka bumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Allah telah mempercayakan kepada kami untuk menjadi suami istri, maka sudah seharusnya kelebihan atau kekurangan masing-masing dari pasangan hendaknya disikapi dengan niat beribadah. Pada akhirnya dapat menjadi keluarga yang sakinnah, mawaddah, warrahmah.

Mulai hari ini aku akan membuka lembar baru dan menulis cerita sampai kelak nanti. Hingga Tuhan memisahkan Kita.

Ardita Rizki Fauzi & Vivi Nur Damayanti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal jodoh

Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...