Delia, Bukan Adelia
Buku yang kubaca telah sampai di lembaran terakhir. Meski getir terasa menyesaki dada, aku mencoba menutupnya dengan cara yang manis. Langit biru yang tadinya cerah perlahan berubah mendung, lalu gemuruh hujan menyertainya. Tapi aku tetap berangkat. Untukmu.
Tak lupa kubawa sebuah bingkisan kecil, rapi terbungkus, dengan namaku tertulis di sana. Sebuah tanda, bahwa kita hampir dua tahun saling mengenal.
"Semoga dia senang yaa..."
Langit malam terasa begitu sendu, seakan turut menangis. Aku menepi, mengenakan jas hujan—yang sayangnya sobek di bagian siku.
"Ah, bodo amat."
Aku terlalu ingin bertemu.
Apa dia secantik yang dulu? Masih mungilkah wajahnya? Atau mungkin... lebih tinggi sekarang? Aku menebak-nebak di sepanjang perjalanan—hingga…
“Sruooott!!”
“Anjeng…”
Air dari genangan disemburkan oleh truk dari arah berlawanan. Tepat ke wajahku. Basah. Tapi tidak apa-apa. Yang penting… ketemu. Sudah lama aku tidak melihat senyumnya.
Kupacu motor lebih cepat, tak peduli lagi pada sopir truk tadi. Sialan memang.
Sesampainya di dekat rumahmu, motor bututku kuberi tempat istirahat. Joknya, yang pernah sekali kau duduki. Aku rapikan jas hujan, lalu mengenakan sepatu—berharap terlihat lebih keren di hadapanmu. Kemeja pinjaman bapak pun kupakai, dengan sedikit memaksa. Hehe, maklum, baju sendiri cuma kaos—itu pun semuanya hitam.
Dengan wajah sok tegar, kutapakkan langkah menuju rumahmu.
"Bagaimana kabarmu?"
"Apakah kau bahagia sekarang?"
"Ada foto siapa di galerimu?"
Ah... rasanya aku ingin bertanya banyak hal.
Kau menyambutku dengan senyum manis yang tak berubah. Tawa kecilmu masih kau tutupi dengan tangan. Lalu suara kakakmu memecah suasana:
"Mas, silakan langsung ambil makan ya."
"Oh, iya mbak, ini langsung ya?"
Dalam hati, aku nyengir. Biasanya kan ditawari dulu—kopi atau teh? Atau malah LPG-nya yang habis pas aku pengen kopi. Kebetulan perutku memang belum terisi sejak siang. Waktu aku ambil piring di dapur tadi, nasinya kosong.
Hari ini, aku tak bisa berlama-lama menatapmu. Bingkisan ini harus segera kusampaikan, sebelum langit cerah berubah deras di pipi.
Tapi ketika aku hendak pamit, justru kamu yang menghentikan langkahku.
"Ayo mas, foto!"
Aku mengangguk. Dengan senang hati kuturuti ajakanmu.
"Eh iya, ini ada bingkisan buatmu. Ada namaku di situ. Titik dua tutup kurung. Samawa yaa."
Kukatakan sembari bersalaman, mataku menatap lensa palsu yang membalut sorotmu.
"Amiin, mas. Iyaaa..."
Tak perlu berlama-lama lagi. Aku langsung pergi, sebelum runtuh yang kutahan sejak tadi.
Motorku tancap sekencangnya. Tak kupedulikan kiri, kanan, depan, belakang. Semuanya.
Sesampainya di rumah, aku parkir motor sembarangan. Langsung masuk ke dalam.
"Pak, kenapa anakmu, pak? Pulang gak salam, gak nyapa, langsung ke belakang," omel ibuku.
"Yo gak tahu buk. Tadi pamitnya cuma pinjem motor sama baju. Katanya mau 'bowoh'," sahut bapakku.
"Paling datang ke acaranya siapa itu? Anak Sanan itu lo, pak."
"Oalah, itu tah buk. Yang dulu pernah ke sini itu? Adel ya?"
"Lah iya bener pak, Adelia," ibuku senang menebak.
"Wah pantesan langsung masuk, gak salam."
Dari belakang kamar mandi aku bersuara, menahan geli.
"Delia, buk. Bukan Adel. Bukan Adelia."
Namanya masih jelas dalam ingatanku. Seperti senyumnya tadi—yang tak berubah.
Komentar
Posting Komentar