Langsung ke konten utama

Aroma Nafas Masa Lalu

Njing, Aku Tahu Sekarang

Kesal, marah, bahagia—semuanya melebur jadi satu saat nawalamu datang tanpa permisi melalui gawai tercanggihku. Kabar itu menampar: bahwa kau sebentar lagi akan melangsungkan resepsi, tinggal menghitung hari.

Baru kusadari, kenapa malam kemarin semerbak wangi tubuhmu tiba-tiba mengisi kamar indekosku. Kenapa pula pekan lalu kau datang, seraya mengucap pamit dalam mimpi itu. Mungkin memang ini cara Tuhan kasih kode: cukup sampai malam ini aku menyimpan harapan.

Lega... diiringi rasa gelisah. Aku mulai membayangkan, bagaimana rasanya kita yang dulu saling sayang, kini hadir hanya sebagai tamu undangan. Kita yang pernah berjanji menatap masa depan bersama, kini hanya ingin saling mengubur kenangan.

Dulu aku punya seekor anjing, masih belia. Dan karena saat itu aku cuma penjaga parkir, rasanya mustahil aku bisa merawatnya dengan layak. Ingin kujual—tapi sayang. Ingin kurawat—ah, dompetku tak cukup tebal.

Akhirnya, kupilih jalan pedih tapi logis: membiarkanmu tumbuh dewasa dan bahagia bersama orang lain. Berat, iya. Tapi itu yang terbaik untukmu, njing. Dalam hati aku janji, suatu saat saat aku sudah mapan dan tak kerja serabutan lagi, aku akan datang menjemputmu. Tapi, ketika waktunya tiba—saat aku benar-benar sudah siap—kau malah sudah terlalu nyaman bersama majikan barumu. Ah, njing!

“Le? Sing apik iku nresnani, dudu ditresnani.
Gawe opo kowe susah payah golek perhatiane cah e, ning kowe malah dadi wong liyo.”
“Injih, Buk.”
Jawabku lirih, sambil menahan perih.

Aku jadi teringat perkataan Erich Fromm:

"Cinta yang matang itu bukan tentang menyerah, tapi tetap bisa berpikir logis."
"Cinta itu bukan buta, bukan juga mencintai seseorang seperti tahi kucing yang rasanya kita anggap coklat."
"Cinta tak semestinya membuatmu kehilangan identitas, apalagi mengorbankan dirimu hanya demi cinta."

Mungkin memang cinta sejati bukan tentang memiliki, tapi tentang menerima. Kadang bentuk paling tulus dari cinta adalah melepaskan... sambil diam-diam berharap semesta masih menyisakan satu jalan pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...