Langsung ke konten utama

Jika Ingin Memiliki, Berarti Bukan Cinta

Tak henti-hentinya aku mengirim doa untukmu, berharap suatu saat Tuhan akan mendengarkannya.

Namun, bodohnya aku yang terlalu mencintaimu. Semakin aku mencintai, semakin kau abaikan dan tak menghargai perasaanku.

Bukan siapa-siapa, hanya cemburu? Aku masih saja egois, merasa diriku lebih istimewa dibanding kekasihmu itu. Kau memilih bersembunyi diam-diam ketika pria itu datang, memberimu senyuman dan kado mesra setiap minggu. Mengajakku berkeliling kota, membujuk agar kau nyaman dalam pelukannya. Seolah kau membuka hatimu meski kau sadar, ada hati lain yang telah kau miliki.

Perlahan, hatimu berubah tak seperti dulu. Tak ada lagi perhatian setiap malam. Aku jadi serba salah saat mencoba menghubungimu.

“Lagi ngapain nih?”
“Sudah makan?”

Namun, kau malah membalas dengan santai:

“Lagi ngabsen ya?”

Aku tak pernah berpikir jauh, hanya ingin segera menikahimu. Usia kita memang masih muda untuk membangun rumah tangga. Aku sibuk dengan karier di luar kota, sementara kau sibuk berlalu-lalang dengan pria yang datang dan pergi begitu saja.

Sungguh, aku mencintaimu meskipun kau tak pernah tahu. Isak tangis menyertai saat tanganku menengadah pada Sang Pencipta. Berpuasa menahan rindu ketika aku tak lagi bisa bersamamu.


Sadarlah, kau bukan pria baik-baik.
Darimana asalmu saja tak jelas.
Namun hidupmu tetap berjalan baik-baik saja.
Biarlah dia lepaskan segala yang kau harapkan,
Karena hidup tak hanya soal mengharapkan.
Masih ada cerita panjang,
Masih ada cita-cita yang harus kau raih di masa depan.

Kelak, bekas paku yang tercabut dari dinding hatimu,
Suatu saat akan ditambal dengan bubur semen baru.
Siapa tahu dindingmu yang rusak justru dicat oleh penghuni hatimu yang baru.

Ilustrasi cinta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal jodoh

Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...