Tak henti-hentinya aku mengirim doa untukmu, berharap suatu saat Tuhan akan mendengarkannya.
Namun, bodohnya aku yang terlalu mencintaimu. Semakin aku mencintai, semakin kau abaikan dan tak menghargai perasaanku.
Bukan siapa-siapa, hanya cemburu? Aku masih saja egois, merasa diriku lebih istimewa dibanding kekasihmu itu. Kau memilih bersembunyi diam-diam ketika pria itu datang, memberimu senyuman dan kado mesra setiap minggu. Mengajakku berkeliling kota, membujuk agar kau nyaman dalam pelukannya. Seolah kau membuka hatimu meski kau sadar, ada hati lain yang telah kau miliki.
Perlahan, hatimu berubah tak seperti dulu. Tak ada lagi perhatian setiap malam. Aku jadi serba salah saat mencoba menghubungimu.
“Lagi ngapain nih?”
“Sudah makan?”
Namun, kau malah membalas dengan santai:
“Lagi ngabsen ya?”
Aku tak pernah berpikir jauh, hanya ingin segera menikahimu. Usia kita memang masih muda untuk membangun rumah tangga. Aku sibuk dengan karier di luar kota, sementara kau sibuk berlalu-lalang dengan pria yang datang dan pergi begitu saja.
Sungguh, aku mencintaimu meskipun kau tak pernah tahu. Isak tangis menyertai saat tanganku menengadah pada Sang Pencipta. Berpuasa menahan rindu ketika aku tak lagi bisa bersamamu.
Sadarlah, kau bukan pria baik-baik.
Darimana asalmu saja tak jelas.
Namun hidupmu tetap berjalan baik-baik saja.
Biarlah dia lepaskan segala yang kau harapkan,
Karena hidup tak hanya soal mengharapkan.
Masih ada cerita panjang,
Masih ada cita-cita yang harus kau raih di masa depan.
Kelak, bekas paku yang tercabut dari dinding hatimu,
Suatu saat akan ditambal dengan bubur semen baru.
Siapa tahu dindingmu yang rusak justru dicat oleh penghuni hatimu yang baru.
Komentar
Posting Komentar