Langsung ke konten utama

Memantaskan Diri, Jika Ingin Dicintai.

Jika ditanya bagaimana caranya agar dicintai, jawabannya adalah dengan memantaskan diri supaya layak dicintai. Tapi kalau ditanya bagaimana caranya agar bisa mencintai, aku jawab: cintailah seperti matahari yang menyinari seluruh isi dunia, tanpa pilih kasih, tanpa pamrih.

Bibirku pudar, lidahku kelu. Aku bisikkan pada Tuhan, “Kalau perih ini yang Engkau kasih, mungkin aku kurang bersyukur mengambil hikmah dari rasa sakit ini.” Ucapan itu keluar dengan isak tangis dari langit.

Ya Tuhan, biarlah aku sendiri yang merasakan perih ini. Jangan sampai orang lain tahu bahwa sebenarnya aku sedih. Buatlah aku bisa tersenyum di depan mereka. Aku percaya ini semua akan segera berlalu, meski paku yang dulu tertancap di tubuhku sudah tercabut, tetap saja meninggalkan bekas luka yang tertancap bersama kenangan.

Lekas pulih.

Aku tahu, getaran jiwamu sudah lapuk dan perih. Kau mencari sinar matahari untuk menghangatkan sebagian tubuhmu yang membeku karena dinginnya badai masa lalu.

Banyak orang tak tahu di mana tempat tinggalmu, dan kau pun sembunyi saat ada yang mengetahui di mana letak tangismu.

Yang kulihat kini hanya tawa di bibirmu, tapi di dalam hati kau sedang berjuang. Mencari hiburan, berharap lukamu cepat sembuh dari bekas sayatan yang dulu meninggalkan luka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal jodoh

Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...