Alkisah, pada suatu sore yang gelap dan nampak tanda-tanda akan hujan, bersama satu orang temanku bernama Angger. Selepas sekolah kami janjian pergi menonton Arema di stadion Kanjuruhan. Angger kuminta untuk rehat sejenak di rumah untuk menanggalkan baju seragam di almari. Motor matic kumal warna merah langsung digas menuju rumahku di dekat terminal Arjosari.
Aku: "Mampir omah sek ya ngger? Salin seragam," ucapku.
Angger: "Cuk ojo suwe-suwe lek salin, selak main!" balasnya.
Aku: "Iyo wadah," jawabku.
Angger adalah teman kelas SMK seusia yang dulunya diem, pandai tapi di tengah-tengah tahun kemudian ia malah tertarik untuk belajar nakal, mungkin ia kecewa dengan seorang wanita yang meninggalkannya. Wajahnya yang murah senyum dan percaya diri adalah daya tariknya. Tampil necis dengan balutan merk dari atas hingga ujung kakinya.
Kemudian kami pergi ke rumah Angger di daerah Pakisaji, 20 kilometer dari rumahku.
Tiba-tiba hujan deras tanpa permisi membasahi kami berdua di perjalanan, padahal rumah Angger hanya kurang 1 kilometer. Pakai mantel pun percuma; kami terlanjur basah kuyub.
Sesampainya di rumah, Angger memberikan baju lama yang gak muat dipakainya. Maklum Angger kian lama berkembang dan aku yang kian lama menyusut.
tok tok tok tik tok tik tok!
Angger: "Wah enak iki dit udan-udan baksone cak bandi!" ucapnya yang kedinginan.
Aku: "Waduh yo enak ae ngger lek di traktir," jawabku dengan becanda.
Angger: "Wes biasane lek aku sing bayari dit! Awamu ae, paham aku," ujarnya dengan terpaksa.
Aku: "Yo sepurane ngger, lali ikumau gowo duwek pas gae tuku tiket," ujarku dengan senyum.
Di tengah-tengah kami memakan bakso tiba-tiba ada seorang perempuan mengetuk pintu dengan wajah agak sedikit kebingungan.
Tetangga: "Mbak jum! Mbak jum!" teriaknya dengan tergesa-gesa.
Angger: "Iyo mbak onok opo mbak?" jawab Angger dengan mulut yang masih kepedesan.
Tetangga: "Ngger tulung omongno ibukmu ta bapakmu. Pak ustad gaonok umur, ndek omah gaono wong blas," ucapnya.
Angger: "Innalillahi, ibuk bapak dereng wangsul buk. Engkin kulo omongne."
Tetangga: "Yowis awamu ae ngger, barikan gaono wong lanang e. Aku wedi," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Angger: "Waduh nggeh pun," jawab Angger dengan terpaksa, kelihatan raut mukanya yang juga takut.
Setelah tetangga itu pulang dan Angger mengiyakan, lantas aku berkata:
"Loh ngger saiki wis jam 5. Arema main jam setengah 7! Yokpo iki nutut a?" tanyaku.
"Waduh dit laiyo, yokponeh lah iki guru ngajiku biyen e. Mosok aku ate gak ngrewangi?" jawab Angger kebingungan.
"Lak tiwas aku adoh-adoh wis tuku tiket pisan lek gak sido!" ucapku nyolot.
"Sek dit diluk ae tak ngetok mrono, engkuk lek wong-wong wis akeh sing nglumpuk aku tak ngaleh. Barek an saiki yo sik udan kon gopoh ae!" jawabnya sinis.
"Iyowis ngger karepmu." ujarku sembari makan bakso yang belum habis.
Hujan agak mereda dan para tetangga yang melayat berdatangan dengan cepat. Tak nampak ada Angger dikerumunan rumah Pak Ustad tersebut yang jaraknya hanya 3 rumah dari rumah Angger. Sesekali aku melihat tak satupun ada bocah seusianya.
Dari arah berlawanan tiba-tiba terlihat wajah hitam kecil daripada orang-orang disekitarnya yang ternyata itu Angger sedang membawa keranda jenazah.
Di depan rumah Angger meminta ganti membawa keranda dan berkata pada tetangganya:
"Mas, aku gaiso ngeterno ning kuburan. Koncoku sakno wis ngenteni ndek omah. Arek e ngejak ndelok Arema i?" ucapnya dengan rasa gaenak.
"Iyowis ngger gapopo sakno koncomu ngenteni, barikan saiki yowis akeh uwong sing nyambangi. Suwun wisan ngewangi njupuk penduso ning kuburan mau." ujar tetangganya.
"Iyowis mas sepurane lo yo." jawab Angger dengan merasa gaenak hati.
Angger tanpa permisi langsung pergi ke kamar mandi. Ku kira sudah batal nonton Arema di Kanjuruhan karena waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Setengah jam lagi mulai pertandingan.
"Ngger! yokpo gak sido a wis. Kon kesel ono, saiki wis jam piro yoan?" ujarku.
Tiba-tiba Angger keluar kamarnya dengan atribut lengkap plus sneaker mahalnya berbalut Arema.
"Gak usah kakean rame! ayo ndang budal wis!" jawabnya dengan santai.
Kami berdua lantas pergi ke stadion Kanjuruhan memakai atribut lengkap. Padahal tetangganya di gang rumahnya sedang berduka. Kiri kanan melihat kami yang dengan santainya pergi tanpa tahu situasi.
Karena wanita ingin dimengerti,
kami para lelaki jadi bingung sendiri.
wqwq
Semoga kamu nggak jatuh cinta lagi, karena jatuh itu rasanya sakit.
Mending kita mendirikan cinta yang berlandaskan patah hati masing-masing.
Saling menertawakan yang lalu dan memperbaiki kembali hati yang kadung remuk.
Komentar
Posting Komentar