Langsung ke konten utama

Mencintai Secukupnya, Tak Usah Berlebihan

Alkisah, pada suatu sore yang gelap dan nampak tanda-tanda akan hujan, bersama satu orang temanku bernama Angger. Selepas sekolah kami janjian pergi menonton Arema di stadion Kanjuruhan. Angger kuminta untuk rehat sejenak di rumah untuk menanggalkan baju seragam di almari. Motor matic kumal warna merah langsung digas menuju rumahku di dekat terminal Arjosari.

Aku: "Mampir omah sek ya ngger? Salin seragam," ucapku.

Angger: "Cuk ojo suwe-suwe lek salin, selak main!" balasnya.

Aku: "Iyo wadah," jawabku.

Angger adalah teman kelas SMK seusia yang dulunya diem, pandai tapi di tengah-tengah tahun kemudian ia malah tertarik untuk belajar nakal, mungkin ia kecewa dengan seorang wanita yang meninggalkannya. Wajahnya yang murah senyum dan percaya diri adalah daya tariknya. Tampil necis dengan balutan merk dari atas hingga ujung kakinya.

Kemudian kami pergi ke rumah Angger di daerah Pakisaji, 20 kilometer dari rumahku.

*****

Tiba-tiba hujan deras tanpa permisi membasahi kami berdua di perjalanan, padahal rumah Angger hanya kurang 1 kilometer. Pakai mantel pun percuma; kami terlanjur basah kuyub.

Sesampainya di rumah, Angger memberikan baju lama yang gak muat dipakainya. Maklum Angger kian lama berkembang dan aku yang kian lama menyusut.

tok tok tok tik tok tik tok!

Angger: "Wah enak iki dit udan-udan baksone cak bandi!" ucapnya yang kedinginan.

Aku: "Waduh yo enak ae ngger lek di traktir," jawabku dengan becanda.

Angger: "Wes biasane lek aku sing bayari dit! Awamu ae, paham aku," ujarnya dengan terpaksa.

Aku: "Yo sepurane ngger, lali ikumau gowo duwek pas gae tuku tiket," ujarku dengan senyum.

****

Di tengah-tengah kami memakan bakso tiba-tiba ada seorang perempuan mengetuk pintu dengan wajah agak sedikit kebingungan.

Tetangga: "Mbak jum! Mbak jum!" teriaknya dengan tergesa-gesa.

Angger: "Iyo mbak onok opo mbak?" jawab Angger dengan mulut yang masih kepedesan.

Tetangga: "Ngger tulung omongno ibukmu ta bapakmu. Pak ustad gaonok umur, ndek omah gaono wong blas," ucapnya.

Angger: "Innalillahi, ibuk bapak dereng wangsul buk. Engkin kulo omongne."

Tetangga: "Yowis awamu ae ngger, barikan gaono wong lanang e. Aku wedi," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Angger: "Waduh nggeh pun," jawab Angger dengan terpaksa, kelihatan raut mukanya yang juga takut.

Setelah tetangga itu pulang dan Angger mengiyakan, lantas aku berkata:

"Loh ngger saiki wis jam 5. Arema main jam setengah 7! Yokpo iki nutut a?" tanyaku.

"Waduh dit laiyo, yokponeh lah iki guru ngajiku biyen e. Mosok aku ate gak ngrewangi?" jawab Angger kebingungan.

"Lak tiwas aku adoh-adoh wis tuku tiket pisan lek gak sido!" ucapku nyolot.

"Sek dit diluk ae tak ngetok mrono, engkuk lek wong-wong wis akeh sing nglumpuk aku tak ngaleh. Barek an saiki yo sik udan kon gopoh ae!" jawabnya sinis.

"Iyowis ngger karepmu." ujarku sembari makan bakso yang belum habis.

****

Hujan agak mereda dan para tetangga yang melayat berdatangan dengan cepat. Tak nampak ada Angger dikerumunan rumah Pak Ustad tersebut yang jaraknya hanya 3 rumah dari rumah Angger. Sesekali aku melihat tak satupun ada bocah seusianya.

Dari arah berlawanan tiba-tiba terlihat wajah hitam kecil daripada orang-orang disekitarnya yang ternyata itu Angger sedang membawa keranda jenazah.

Di depan rumah Angger meminta ganti membawa keranda dan berkata pada tetangganya:

"Mas, aku gaiso ngeterno ning kuburan. Koncoku sakno wis ngenteni ndek omah. Arek e ngejak ndelok Arema i?" ucapnya dengan rasa gaenak.

"Iyowis ngger gapopo sakno koncomu ngenteni, barikan saiki yowis akeh uwong sing nyambangi. Suwun wisan ngewangi njupuk penduso ning kuburan mau." ujar tetangganya.

"Iyowis mas sepurane lo yo." jawab Angger dengan merasa gaenak hati.

Angger tanpa permisi langsung pergi ke kamar mandi. Ku kira sudah batal nonton Arema di Kanjuruhan karena waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Setengah jam lagi mulai pertandingan.

"Ngger! yokpo gak sido a wis. Kon kesel ono, saiki wis jam piro yoan?" ujarku.

Tiba-tiba Angger keluar kamarnya dengan atribut lengkap plus sneaker mahalnya berbalut Arema.

"Gak usah kakean rame! ayo ndang budal wis!" jawabnya dengan santai.

Kami berdua lantas pergi ke stadion Kanjuruhan memakai atribut lengkap. Padahal tetangganya di gang rumahnya sedang berduka. Kiri kanan melihat kami yang dengan santainya pergi tanpa tahu situasi.

Karena wanita ingin dimengerti,
kami para lelaki jadi bingung sendiri.
wqwq
Semoga kamu nggak jatuh cinta lagi, karena jatuh itu rasanya sakit.
Mending kita mendirikan cinta yang berlandaskan patah hati masing-masing.
Saling menertawakan yang lalu dan memperbaiki kembali hati yang kadung remuk.
Aremania Supporters
Suasana Aremania di Stadion Kanjuruhan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal jodoh

Jodoh Itu Perjalanan Tanpa Peta: Dari Malang ke Jombang Bayangkan, kawan... Tiga orang berjalan dari Malang ke Jombang, tanpa peta, tanpa GPS, hanya mengandalkan rasa dan intuisi. Yang pertama, langsung bertanya arah beberapa kali, dan sampai ke tujuan. Seperti orang yang bertemu jodoh, langsung berkata, “Ya sudah, ini jodohku.” Awalnya manis, tapi kemudian seperti pintu masuk ke dunia baru yang harus dijalani. Kekurangan dan kebiasaan tersembunyi muncul sebagai tantangan. Yang kedua, masuk jalan yang salah, terlewat, balik lagi, tapi tidak menyerah. Seperti orang yang rujuk dengan mantan, menghadapi masalah, mengakui kesalahan, saling membantu mengambil hati. Akhirnya bisa berjalan bersama lagi, dengan tulus dan ikhlas. Yang ketiga, berputar-putar mengelilingi jalan, mencoba jalur baru yang tak diketahui arah. Seperti orang yang sudah banyak pengalaman, patah hati, belajar dari sedih, lalu menjadi lebih bijaksana. Perjalanannya lebih panjang, tapi hati dan pikiran menj...

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...