Jalanku ditempuh menggunakan beribu-ribu kali kejadian patah hati. Entah itu masalah keluarga, teman, ataupun mantan.
Kadangkala aku berpikir, kenapa Tuhan membentukku dengan kejadian pahit selama dua dekade terakhir ini? Apakah aku yang tak bisa berbenah setiap kejadian, ataukah memang aku saja yang terlalu berlebihan? Ahh... (sembari menghela napas panjang).
Lalu kemudian seseorang menepuk bahuku dari belakang dan membentak, yang ternyata itu Ibuku sendiri.
"Ngelamun yo ngelamun, galau yo galau. Tapi lek udan kumbahane yo entasono," kata Ibuk dengan raut jenakanya.
"Oh iyo, buk, lali hehehe," jawabku sontak dengan tawa yang terlihat palsu.
Ahh, Ibuk selalu saja membuyarkan suasana. Ada saja cara Ibuk mengajariku agar aku tak terlalu memikirkannya.
- Ardita RF
Komentar
Posting Komentar