Langsung ke konten utama

Sembuh itu sulit, obat itu pahit.

Aja kuminter mundhak keblinger, aja cidra mundhak cilaka.
Jangan terlena oleh godaan yang membelokkan niat awal,
yang berujung pada penghianatan dan hilangnya setiakawan.

Untuk ke depan, jika menjalani lelaku,
niatlah hanya untuk menyembah Sang Pemberi Hidup,
tak tergoda oleh kesaktian dan duniawi yang fana.

Langit kuning kemerahan diiringi terik mentari,
namun gerimis pun membasahi permukaan bumi.
Pelangi berpijar menghiasi cakrawala Gresik Selatan,
tepat di malam Nuzulul Qur'an,
menghibur orang-orang yang lama merindu, tak bisa pulang.

Di situasi sekarang, yang dibutuhkan manusia adalah ketidaktahuan itu sendiri.
Wong pinter bisa keblinger, wong bodo malah dimanfaatkan.

Yang cantik, pintar, sholehah banyak,
sudah pasti rebutan semua lelaki.
Tapi yang mampu bertahan dalam situasi hampir putus asa,
bahkan yang terjerumus ke dalam pikiran gelap sangat sedikit.
Kebanyakan mereka merasa insecure dan mengurung diri.

Transendental

Setelah duduk termenung di depan teras,
aku sadar, cita-cita bukan untuk dikejar,
tapi bagaimana mempersiapkan diri agar layak mendapatkannya.

Bukankah merpati terbang jika dikejar?
Tapi berbeda jika sudah menyiapkan seonggok jagung
untuk memancing datangnya merpati tersebut.

Gusti Allah itu tahu kebutuhan manusia,
bukan sekadar menuruti apa yang diinginkan manusia.

Sembuh itu sulit, obat itu pahit.
Terlalu banyak yang manis-manis, gula darah naik.
Terlalu banyak yang asin-asin, tekanan darah melambung.
Merasakan perih secukupnya, berbahagia sepantasnya.

“Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman.”
Adigang, adigung, adiguna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepiring Pecel Lele dan Harga Diri

Malam itu aku berangkat latihan seperti biasa, meski ada yang berbeda. Dompetku hanya menyisakan sepuluh ribu. Uang pas untuk bensin pulang-pergi. Tak lebih. Tapi latihan adalah janji pada diri sendiri, dan seperti biasa, aku tepati. Mas pelatihku selalu mengajakku makan setelah latihan. Sudah tiga bulan ini begitu, dan hampir selalu beliau yang membayar. Aku sering sudah berjaga-jaga, membawa uang untuk sekadar bisa gantian membalas. Tapi tetap saja, beliau yang mengulurkan tangan lebih dulu. Dan aku tak pernah punya kesempatan untuk bilang, “Mas, biar aku saja.” Tapi malam itu, justru ketika aku tak punya apa-apa, kesempatan itu datang. Latihan selesai, dan seperti biasa beliau mengajak makan. Aku menolak halus, bilang masih kenyang, bilang istri sedang menunggu. Tapi beliau tahu aku berbohong. Akhirnya beliau tetap menarikku ikut. Warung langganannya tutup. Kami berdua berbelok, mencari tempat lain. Sampai akhirnya kami tiba di warung temannya—sahabat lamanya sejak SD yang baru ...

Shodaqoh Vs Mencuri

Pagi ini adalah hari yang cerah namun terasa agak dingin mungkin menjelang musim ketiga. Berangkat bekerja terasa mulus tanpa hambatan, tetapi sialnya mesin kertas kami putus hingga kawan kami harus berkeringat di awal shift. Jelas semua orang pagi itu haus dan membutuhkan asupan air mineral. Namun, ada admin kami menegur: "Info galon datang 9 di beli 1 sisa 8 diambil ke atas 1, 1 galon sudah bukaan di bawah". Ujar Daytama Jelas perkataan tersebut memancing perdebatan antar karyawan di tempat kami. Pasalnya iuran tiap bulan ada yang rutin membayar adapula yang rutin minum tanpa mau ikut membayar. Heri adalah karyawan yang bekerja di lantai bawah tepat tukang galon mengantarkan. Wajar ia merasa tersinggung dan kemudian menjawab: "Emang betul ada aqua galon yang terbuka, mungkin udah terbayar. Saya beli isi ulang lho Dan". Jawab Heri "Gak ada info bah, ini tadi yang bayar mandor Topan aja. Kemarin mas imam uda di bawa". Sahut Daytama. ...

Menahan

Delia, Bukan Adelia Buku yang kubaca telah sampai di lembaran terakhir. Meski getir terasa menyesaki dada, aku mencoba menutupnya dengan cara yang manis. Langit biru yang tadinya cerah perlahan berubah mendung, lalu gemuruh hujan menyertainya. Tapi aku tetap berangkat. Untukmu. Tak lupa kubawa sebuah bingkisan kecil, rapi terbungkus, dengan namaku tertulis di sana. Sebuah tanda, bahwa kita hampir dua tahun saling mengenal. "Semoga dia senang yaa..." Langit malam terasa begitu sendu, seakan turut menangis. Aku menepi, mengenakan jas hujan—yang sayangnya sobek di bagian siku. "Ah, bodo amat." Aku terlalu ingin bertemu. Apa dia secantik yang dulu? Masih mungilkah wajahnya? Atau mungkin... lebih tinggi sekarang? Aku menebak-nebak di sepanjang perjalanan—hingga… “Sruooott!!” “Anjeng…” Air dari genangan disemburkan oleh truk dari arah berlawanan. Tepat ke wajahku. Basah. Tapi tidak apa-apa. Yang penting… ketemu. Sudah lama aku tidak melihat senyumnya. ...