Angkuh gagah berdiri ketika raga tak kenal mati,
Ambisi meraih mimpi membuat insan semakin ringkih.
Hey ada kanan dan kirimu,
Mengapa engkau terus maju?
Terpenjara dalam nafsu seakan semua lupa,
Dulu kau yang pernah berujar kita saling melengkapi;
Bukan yang saling mengejar duniawi.
Kini tangis raga menyeruak ingin mati;
Setelah semua tak sesuai ekspektasi.
Menyesal, kecewa, campur aduk dalam balutan puisi.
Ada apa ini?
Tuhan nyatanya tak pernah benci dengan semua;
Meski dirasa kadang lupa saat Bahagia.
Tuhan nyatanya masih cinta dengan semua;
Meski dirasa kadang butuh disaat derita.
Kini tinggal Hanya aku dan Tuhan.
Dalam rimbun hutan sunyi,
Aku tersentak ada cahaya muncul,
Warna kemerahan menjalar; Warna keabu-abuan bersuara.
Aku ingin lari, tapi badan ini sungguh berat;
Aku ingin teriak, tapi mulut ini tak bisa bergerak.
Anak-anakku, bagaimana ini?
Penghuni dusun rimbun meronta-ronta kesana kemari;
Banyak yang mati sia-sia.
Komentar
Posting Komentar