Langsung ke konten utama

Postingan

Kurusetra Dalam Diri

Gejolak batin sering kali menjadi perang dingin yang tak terlihat. Entah berpihak pada suara malaikat atau justru pada bisikan jin. Pernah terlintas dalam benak, bahwa hati ini ibarat sebuah lapangan luas yang kusebut Kurusetra . Di dalamnya, pasukan malaikat yang sedikit adalah para Pandawa, sementara ribuan pasukan jin adalah Kurawa. Bayangan masa lalu yang kelam, seperti sosok Sengkuni, sering muncul dalam ingatan. Ia menyulut bara, menumbuhkan dendam, dan menyemai iri dengki dalam dada. Namun aku kembali mengingat— “I’m a driver, not a passenger.” Manusia diberikan pilihan, dan setiap pilihan yang diambil, suatu hari nanti akan diminta pertanggungjawaban. Terngiang pula pesan kakek dahulu: “Cung, aja nuruti rahsaning karep. Turutono kareping rohso ben uripmu soyo pener. Perna marang penggawean, soyo tumindak becik marang kauripan.”

Penjajah di Negeri Sendiri

Siapa sih yang suka dijajah di negerinya sendiri? Mungkin sebagian orang menganggap para pendatang itu biasa saja, atau jangan-jangan mereka justru mengais rupiah dari celana necis para pendatang. Genap setahun aku merasakan getir-manisnya hidup di sebuah tempat bernama Semambung, sebuah dusun kecil yang berdiri di antara Sungai Brantas dan deretan perusahaan besar. Dari obrolan warung kopi, sesekali terdengar keluhan warga asli, para pemuda pribumi yang merasa asing di tanah kelahirannya sendiri. Setahun terakhir, mereka melihat para perantau datang berbondong-bondong dan menetap. Ketimpangan sosial yang tampak di depan mata menimbulkan pro dan kontra—tentang bagaimana caranya bertahan hidup layak di negeri sendiri. Setiap malam mereka mengeluh. Ada kekhawatiran, jika suatu hari anak cucu mereka akan tersingkir perlahan oleh perantau-perantau yang terus berdatangan. Bagi sebagian orang, bisnis kamar sewa mungkin terlihat menguntungkan. Tapi bag...

mantan diantara hujan.

Rintik hujan membuat kenangan menjadi terulang saat semerbak wangi aspal jalanan menjelma bak parfum tubuhmu. Kala duduk berdua di ruang tamu; kala tiap Sabtu aku pergi apel ke rumahmu. Aku tak menyesal pernah menjadi bagian indah dalam hidupmu, atau mungkin menjadi tukang ojek yang siap jika sewaktu-waktu kau membutuhkanku. Meski kadangkala yang kau butuhkan adalah siapa yang mau untuk jadi pelampiasan. Iya, pelampiasan karena lukamu di masa lalu. Kini sakitmu perlahan telah pulih dari bekas luka masa lalu. Dan ketika semakin dirasa sudah saatnya sembuh bersamaku, anehnya kau malah rindu dengan kenangan sakit bersama masa lalumu. Terima kasih, karenamu aku belajar berbesar hati. Karenamu aku belajar membuka hati.

Guru Pengalaman adalah Mantan

Napsu dan Luka yang Membawa Pelajaran Aku pernah merasa dekat, walau sebenarnya hati sudah jauh tak berjumpa. Bodohnya aku dulu menyesal saat tangan kita erat berjabat, tapi dalamnya hati malah melayang ke syahwat semu. Itu napsu , yang sering bikin kita lupa arah dan hati. Dua tahun berlalu, luka itu pelan-pelan sembuh. Waktu menjawab semua tanya yang tak terucap. Aku mulai paham, bahwa cinta itu bukan cuma soal rasa. Di antara kita ada masalah lain yang diam-diam mengikis: uang . Kadang uang jadi dinding yang memisahkan, bukan cuma jarak fisik. Dengan patah hati aku belajar bangkit, meski rasa sakit dan dendam pernah singgah. Kita memang sudah berpisah jalan, tapi bukan berarti doaku untukmu berhenti. Dari perpisahan itu aku belajar hidup tak sekedar merasa cukup, tapi juga bersyukur atas apa yang ada. Aku tak punya mobil untuk memayungimu dari hujan, hanya motor tua yang menemani langkah kita. Tapi itu bukan so...

Penguasa yang bisu

Aku tahu berjalan di hutan belantara akan menemui banyak kesulitan, bahkan tersesat sekalipun. Tak ada keluarga, saudara, ataupun teman. Yang ada hanyalah Alam yang ingin berkomunikasi. Tapi apa yang kucari jika terus nyaman pada instanya kota. Cuci baju sama dengan uang, air bersih sama dengan uang, dan hal lain yang mesti harus dengan uang. Sudah pantaskah jika uang disebut penguasa? Uang dapat membuat sahabat menjadi khianat, uang juga dapat membuat hubungan keluarga menjadi sirna. Bahkan uang suatu saat bisa menjadi agama baru, jika hidup mati kita mengabdi pada selembar kertas yang terus diburu. Dahulu pertama kali aku melihatmu seperti macan betina yang bertaring tajam, siap menerkam siapapun yang tak mau menuruti atasan. Namun hal yang berbanding terbalik saat aku mencoba mulai mendekat dan bertukar pendapat, ternyata sosok macan betina itu pandai mengasuh, membimbing, serta melindungi kesemua anak-anaknya. Terlihat saat sang induk telah berpamit, anak-anaknya sa...

Jawa itu kuno.

Kata orang, di era modern sekarang ini, sebagian generasi milenial mungkin mengesampingkan seperti apa kehidupan sosial mbah buyut kita dahulu kala. Kurangnya pendidikan, penindasan, bahkan penjajahan oleh bangsa asing, memang benar seperti yang diceritakan dari mulut ke mulut. Nyatanya, mbah buyut dulu juga tak pernah tahu tentang teknologi modern, apalagi Revolusi Industri 4.0. Tapi menurutku, teknologi terdahulu yang dimiliki nenek moyang kita adalah kemampuan memaksimalkan teknologi di dalam dirinya sendiri, tidak seperti teknologi sekarang yang terus berinovasi di luar dirinya. Misalnya, sekarang seperti hacker; seorang hacker butuh komputer dan perlengkapan lain untuk bisa mengakses dan membobol identitas seseorang. Namun, di zaman dahulu, seorang dukun mampu menebak identitas seseorang hanya dari nama, tanggal lahir (weton), atau bahkan rambutnya. Bahkan seorang dukun bisa “nge-hack” diri seseorang melalui santet atau pelet, tanpa perlu algoritma lagi. ...

Demi Bangsa dan Negara.

Aku ini bingung. Ingin mengabdi pada negara, tapi aku bukan kalangan militer, juga bukan pegawai aparatur sipil negara. Tiap hari aku merenung, gelisah, dan mencoba berpikir kritis mencari inspirasi di antara bau menyengat sisa ampas makanan tadi pagi di dalam kamar mandi. Lama kemudian, aku jengkel. Sia-sia tenaga, keringatku terkuras gara-gara poop yang dari tadi tak mau keluar. Setelah itu, aku hendak pergi dari kamar mandi, mencoba dengan cara lain, yaitu merokok di depan teras indekos sambil menunggu sang Jibril memberikan wahyu. "Ahaa!" ucapku penuh sumringah. "Ngapain juga mau mengabdi pada negara? Aku kan ini sedang membantu negara. Kok aku gak kepikiran ya? Kan setiap hembusan nafasku sudah disertai cukai-cukai. Semakin banyak aku berhembus, semakin banyak aku urun biaya. Lah, aku juga membantu kampanye negara tentang pemberantasan rokok, ya dengan ini, dengan cara tak bakar tiap hari." Sembari melamun dan tertawa sendiri.