Langsung ke konten utama

Postingan

Buk, Do'amu Manjing!

Aku ingin tahu, bagaimana caranya untuk mengetahui dari mana asal-usul silsilah keturunanku. Dan yang paling ingin aku ketahui adalah, untuk apa sebenarnya aku dilahirkan? Apakah untuk merusak bumi? Merampas uang rakyat? Atau untuk membantu keluarga yang tak kunjung damai, yang tiap hari terus cekcok dan bertengkar tanpa henti? Aku lahir dari sepasang orang tua yang nasibnya serupa dengan nama kota tempat kelahiranku: "Malang". Ceritanya, ayah dan ibu pertama kali bertemu saat ayah menjadi operator kayuh becak, dan ibu seringkali menjadi pelanggannya saat sore hari selepas bekerja. Singkat cerita, akhirnya ayah dan ibu saling suka hingga memutuskan menikah di usia 20-an. Meski ayah tidak memiliki pekerjaan tetap, untungnya ibu sudah menjadi pegawai tetap. Ayah berasal dari desa perbatasan dan mengadu nasib di tanah perantauan, tepatnya di terminal Malang. Tanah penghasil kopi di perbatasan Kota Lumajang adalah tempat kelahiran ayahku. Ayah berasal dari keluarga pet...

Nak

Nak, bangunlah. Masih banyak cucian! Mana tanggung jawabmu? Tiap hari hanya tertidur di sofa melihat cermin. Apa kau sudah gila nak? Melihat wajah sendiri di cermin dengan tertawa terbahak-bahak. Tapi katamu cermin itu ajaib, bisa melihat dunia dan seisinya. Tapi aku khawatir denganmu, sudah lama kau tak menyapa kawanmu sekitar perumahan. Diajaknya kau malah mengejek, sepertinya kawanmu tak lagi suka denganmu; sudah tak nyambung diajaknya bicara. Aku takut denganmu saat dewasa, kelak ketika Ibumu sudah tiada. Siapa lagi yang akan merawatmu? Anak sebatang kara, tak kenal siapa dan dimana bapaknya.

Definisi Cinta

“Sudahlah, wanita gak hanya satu. Kita hidup di Indonesia, terdiri dari 250 juta jiwa,” ucapnya. Bukan soal berapa banyak wanita di dunia ini, aku saja tak pernah mengerti tentang apa definisi cinta. Apa cinta adalah perjalanan melukai diri sendiri? Ataukah cinta adalah memuaskan nafsu diri? Ahh… terlalu awam menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam hati. Yang jelas sahabatku Febri ini suka menasehatiku, saat dia tahu bahwa aku sedang memikirkanmu.

Ketika Hubungan Tak Lagi Sehat

Ketika langit menjadi kelabu, seakan awan mendung menutupi hatimu. Perasaan mengagumkan kala itu, melihatmu merona dalam tawa manismu. Pukul 17:00 WIB aku menanti binar cahayamu. Cahaya yang sering disapa senja; yang sering menghiasi cakrawala linimasa; yang sering mewakili perasaan remaja yang gundah gulana. Memang senja hanya datang sesaat, seperti jua dirimu yang tak kunjung kau dapat. Memang terasa berat, karena perasaan kita hanya tumbuh sesaat; sesaat kau mencintaiku, sesaat kau mencintainya. “Keputusanmu adalah hal yang paling tepat disaat sebuah hubungan menjadi tak lagi sehat. Kau lebih memilih hubungan singkat daripada cinta yang terlanjur terjerat tanpa hati yang terikat. Menyekat, setidaknya dalam jangka waktu yang tepat.”

Penjual Kambing Dadakan

Jika arti viral merupakan sesuatu kejadian yang klimaks, apa bedanya dengan arti cinta yang jatuh hati sesaat? Mirip seperti penjual kambing di sepanjang jalan ketika Hari Raya Idul Adha menjelang tiba, atau ramainya penjual durian pinggir jalan yang sedang musim-musimnya. Hilang dan pergi begitu saja, tanpa tahu ada rasa yang pernah terluka; olehmu sedia kala. Lupakah kau dulu kita pernah bertukar jari kelingking bersama? Saling mengucap janji bahwa: “Seberat apapun kita melangkah, pasti akan ada badai besar datang yang mencoba merobohkan.” Entah kenapa, manisnya katamu dahulu seakan sengaja kau lupa. Sekarang kau lebih memilih seorang lelaki yang pernah kau benci dahulu kala; yang sering kau ceritakan ketika aku bertemu denganmu di Taman Kota. “Merebahlah sayap, terbang tinggi di langit sana. Aku adalah bumi pengalah yang sering kau pijaki. Suatu saat, akan kubanggakan pada semua bahwa: aku pernah melihatmu sekecil itu.”

Swadaya Rasa

“Uniknya, rasa itu benar-benar ada. Bukan rasa yang awam dirasakan lidah, melainkan rasa ketika aku terlalu nyaman bertukar pikiran denganmu di dunia maya.” Meski kau dan aku tak pernah berjumpa sebelumnya, aku tak pernah memaksamu untuk memiliki rasa yang sama. Jika yang terbaik adalah kita yang saling sapa dalam setiap doa. Tepat hari ini kau dipersunting seorang laki-laki yang kau anggap sempurna. Selamat menikah. Semoga Sakinnah. “Jika arti swadaya adalah ikhlas memberi tanpa pamrih, lalu apa bedanya dengan rasa yang tak kunjung memiliki?”

Jika Ingin Memiliki, Berarti Bukan Cinta

Tak henti-hentinya aku mengirim doa untukmu, berharap suatu saat Tuhan akan mendengarkannya. Namun, bodohnya aku yang terlalu mencintaimu. Semakin aku mencintai, semakin kau abaikan dan tak menghargai perasaanku. Bukan siapa-siapa, hanya cemburu? Aku masih saja egois, merasa diriku lebih istimewa dibanding kekasihmu itu. Kau memilih bersembunyi diam-diam ketika pria itu datang, memberimu senyuman dan kado mesra setiap minggu. Mengajakku berkeliling kota, membujuk agar kau nyaman dalam pelukannya. Seolah kau membuka hatimu meski kau sadar, ada hati lain yang telah kau miliki. Perlahan, hatimu berubah tak seperti dulu. Tak ada lagi perhatian setiap malam. Aku jadi serba salah saat mencoba menghubungimu. “Lagi ngapain nih?” “Sudah makan?” Namun, kau malah membalas dengan santai: “Lagi ngabsen ya?” Aku tak pernah berpikir jauh, hanya ingin segera menikahimu. Usia kita memang masih muda untuk membangun rumah tangga. Aku sibuk dengan karier di luar kota, sementara kau sibuk b...